JATIMTIMES — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) mempercepat penanganan jalan rusak menjelang arus mudik Lebaran. Skema respons cepat 1x24 jam untuk lubang jalan, pelipatgandaan tim tambal di lapangan, hingga rekonstruksi total pada titik deformasi berat disiapkan agar jalur utama dan regional dalam kondisi aman saat mobilitas kendaraan meningkat tajam.
Wakil Gubernur (Wagub) Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan, dalam beberapa hari terakhir dirinya turun langsung meninjau sejumlah ruas bermasalah, termasuk ruas Kasiyan–Puger di Kabupaten Jember yang kerap dikeluhkan warga.
Baca Juga : Stok Aman hingga 10 Bulan, Lonjakan Konsumsi Saat Ramadan Tak Goyahkan Pasokan Beras Kota Malang
“Sudah beberapa hari terakhir saya berkunjung ke jalan rusak. Jadi khusus satu di Kencong, saya kemarin sudah meninjau perbaikan ruas Kasiyan–Puger (Jember). Ini sudah rahasia umum ya, bahwa kalau pakai spek standar yang menjadi kewajiban dari provinsi, jalan provinsi, itu tetap tidak akan bisa menghadapi truk yang bermuatan seperti itu," ujar Emil Dardak.
Ia menegaskan, komitmen penanganan cepat untuk jalan berstatus provinsi tetap menjadi prioritas utama menjelang mudik.
“Saya sampaikan, janji Ibu Gubernur 1x24 jam jalan berlubang itu ditangani. Itu Bu Gubernur serius, tapi itu jalan provinsi. Nah ini yang kadang-kadang orang mengaitkan, bagaimana kalau bukan jalan provinsi, terus provinsi lepas tangan? Oh, tidak boleh," urainya.
Emil menegaskan, Pemprov juga memantau ruas strategis nasional yang menjadi jalur utama pergerakan kendaraan, termasuk segmen Mojoagung–Ring Road Jombang, bagian dari jalur Surabaya menuju Mengkreng arah Kediri.
“Nah, cuma contoh kemarin, ini bukan provinsi, ini jalan nasional. Ruas dari total 92 kilometer dari Surabaya sampai ke Mengkreng itu sekitar 88 persen kondisinya mantap, artinya baik dan sedang. Yang rusak itu sekitar 10 kilometer. Dari 10 kilometer itu, 4 kilometer sendiri ada di Mojoagung sampai Ring Road Jombang. Kok bisa? Karena di situ hujannya lebih banyak. Saya juga baru tahu kemarin. Hujannya lebih banyak, jalannya juga lebih capek karena sejak 2017 belum ada peremajaan di segmen itu," paparnya.
Curah hujan tinggi mempercepat kemunculan lubang baru. Dalam sehari, titik kerusakan bisa bertambah puluhan lokasi. Untuk mengejar laju kerusakan tersebut, jumlah tim diperbanyak.
“Maka ditingkatkan menjadi dua kali lipat, 10 tim. Mulai hari ini bekerja untuk bisa menambal, artinya total 100 lubang. Itu pun penambalan itu hanya bisa—patching namanya—hanya bisa efektif kalau tidak ada hujan deras," tandasnya.
Untuk kerusakan ringan hingga sedang, metode patching masih digunakan sebagai langkah cepat. Namun pada titik dengan kerusakan struktural berat, pendekatan yang ditempuh adalah rekonstruksi.
Baca Juga : Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Berpotensi Tak Berbarengan, Ini Penjelasan BRIN
“Jadi ini bukan lagi menambal lubang, ini deformasi. Deformasi itu kita garuk, sedalam bisa sampai 20 sampai 40 sentimeter. Lapisan pondasi agregat kelas A-nya diganti, kemudian baru ditutup dengan aspal emulsi CPHMA," jelasnya.
Selama proses pembongkaran berlangsung, pembatasan lalu lintas diterapkan demi keselamatan pengguna jalan.
“Kalau untuk membenahi tidak bisa sekadar patching—patching itu cuma ditambal—maka harus dibongkar. Maka sementara masih proses pembongkaran di titik lain, itu dibatasi dulu lalu lintasnya. Jangan sampai kendaraan melintas di atas lubang yang berbahaya," tandasnya.
Emil menekankan, kesiapan arus mudik tidak hanya terfokus pada jalur antarprovinsi yang padat kendaraan, tetapi juga jalan regional yang menjadi akses lanjutan pemudik setelah memasuki wilayah kabupaten/kota.
“Semua jalur mudik memang mendapat perhatian banyak pihak. Tetapi begitu sampai di kabupaten, dia akan melalui jalan-jalan regional ini. Sehingga kita juga harus pastikan semua kondisi jalan dalam keadaan prima," paparnya.
Dengan percepatan tambal 1x24 jam, penambahan tim lapangan, serta rekonstruksi total di titik deformasi, Pemprov Jatim menargetkan kondisi jalan mantap sebelum puncak arus mudik Lebaran. Fokusnya satu: memastikan perjalanan pemudik berlangsung aman, lancar, dan minim risiko kecelakaan akibat kerusakan jalan.
