Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Mengenang Heroisme Shahabiyah, Garda Kemanusiaan dan Pertahanan Umat

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Nurlayla Ratri

16 - Jun - 2026, 10:51

Placeholder
Ilustrasi kisah Shahabiyah yang turut memiliki andil dalam sejarah peradaban Islam (ist)

JATIMTIMES - Peran perempuan dalam sejarah Islam tidak pernah terbatas pada ruang domestik. Sejak masa Rasulullah SAW, para shahabiyah telah menunjukkan kontribusi nyata dalam berbagai aspek kehidupan umat, termasuk ketika kaum muslimin menghadapi peperangan. Jejak mereka tercatat bukan hanya sebagai pendukung di belakang layar, melainkan sebagai sosok yang ikut menentukan ketahanan pasukan, menjaga logistik, merawat korban, hingga terlibat langsung dalam pertempuran ketika keadaan mendesak.

Landasan keterlibatan mereka berangkat dari seruan jihad dalam Al-Qur’an yang ditujukan kepada seluruh kaum mukmin. Perintah tersebut tidak dibatasi hanya bagi laki-laki. Karena itu, para perempuan muslim pada generasi awal Islam turut memberikan baiat kepada Rasulullah SAW sebagai bentuk komitmen terhadap perjuangan dan pengabdian kepada agama.

Baca Juga : Puasa Tasu'a dan Asyura 2026 Kapan? Ini Jadwal, Keutamaan, dan Niat Lengkapnya

Dalam berbagai ekspedisi militer, Rasulullah SAW bahkan kerap membawa sebagian istrinya. Tradisi ini kemudian diikuti oleh para sahabat. Kehadiran perempuan di sekitar pasukan bukan sekadar simbol dukungan moral, tetapi menjadi bagian dari sistem pertahanan dan pelayanan yang menopang keberlangsungan peperangan.

Salah satu tugas yang paling menonjol adalah pelayanan medis. Para shahabiyah bertanggung jawab menyediakan air bagi prajurit yang kehausan, membersihkan luka, serta mengevakuasi korban dari garis depan pertempuran menuju lokasi perawatan. Di tengah hujan anak panah dan sabetan pedang, mereka tetap bergerak membantu para pejuang yang terluka.

Sejarah Islam mengenal Rufaidah Al-Aslamiyah sebagai pelopor pelayanan kesehatan perempuan. Banyak literatur menyebutnya sebagai perawat profesional pertama dalam sejarah Islam. Rasulullah SAW menyiapkan sebuah tenda khusus yang berfungsi layaknya rumah sakit lapangan untuk menangani korban perang. Dari tempat inilah Rufaidah bersama para perempuan sahabat lainnya menjalankan tugas kemanusiaan yang sangat penting bagi keselamatan pasukan.

Selain merawat korban, kaum perempuan juga berperan dalam pengurusan jenazah para syuhada. Pada masa awal peperangan, jenazah para pejuang biasanya dibawa kembali ke Madinah untuk dimakamkan. Para shahabiyah ikut mengangkut jenazah dan membantu proses pemakaman. Ketika kemudian turun perintah agar para syuhada dimakamkan di lokasi mereka gugur, para perempuan turut menyesuaikan diri dan berpartisipasi dalam proses pemakaman di medan perang.

Kontribusi mereka tidak berhenti pada urusan kemanusiaan. Dalam berbagai persoalan strategis, perempuan juga dilibatkan dalam proses musyawarah. Mereka memiliki hak menyampaikan pandangan terkait urusan perang dan perdamaian, termasuk dalam pembahasan kesepakatan gencatan senjata serta berbagai keputusan penting lainnya.

Rasulullah SAW bahkan secara terbuka meminta masukan dari para sahabat. Dalam salah satu kesempatan beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, berilah masukan saya, karena sesungguhnya Tuhanku telah memerintahkanku untuk bermusyawarah.”

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa perempuan pada masa awal Islam memiliki ruang partisipasi yang luas dalam kehidupan sosial dan politik umat.

Di sektor logistik, peran mereka tidak kalah vital. Para shahabiyah bertugas mengawasi perbekalan, memasak makanan bagi pasukan, menyediakan kebutuhan hewan tunggangan, serta merawat kuda-kuda perang yang terluka. Mereka juga membantu menyiapkan perlengkapan tempur dan memastikan senjata dapat digunakan dengan baik selama peperangan berlangsung.

Sejumlah kisah heroik menunjukkan ketangkasan perempuan dalam mendukung operasi militer. Ummu Tamim, misalnya, segera membawakan pedang pengganti ketika senjata Khalid bin Al-Walid patah saat duel di medan laga. Sementara itu, Asma binti Abi Bakar dikenal sigap menyiapkan berbagai kebutuhan perang bagi suaminya, Zubair bin Al-Awwam.

Kehadiran perempuan dan anak-anak di sekitar wilayah pertempuran juga memiliki dampak psikologis yang besar. Mereka menjadi sumber motivasi yang membangkitkan semangat juang para prajurit sekaligus simbol kehormatan yang harus dipertahankan.

Salah satu kisah paling terkenal datang dari Al-Khansa, penyair perempuan legendaris yang hidup pada masa Islam. Dalam Perang Qadisiyah, ia mendorong keempat putranya untuk berjuang di jalan Allah SWT. Ketika seluruh putranya gugur sebagai syuhada, Al-Khansa tidak larut dalam kesedihan. Dengan penuh keteguhan ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kematian mereka sebagai syuhada.”

Semangat yang sama juga tampak dalam tugas menjaga moral pasukan. Dalam beberapa peperangan, para perempuan ditempatkan di bagian belakang barisan. Mereka bertugas mengingatkan para prajurit agar tidak meninggalkan medan tempur. Ketika ada yang mulai goyah atau hendak mundur, mereka memberikan dorongan moral agar keberanian pasukan tetap terjaga.

Baca Juga : Hasil Piala Dunia 2026 Dini Hari Tadi: Mesir Tahan Imbang Belgia 1-1

Peran ini terlihat jelas dalam Pertempuran Yarmuk. Khalid bin Al-Walid menempatkan kelompok perempuan di belakang pasukan berkuda untuk menghalau siapa pun yang berusaha melarikan diri dari pertempuran. Mereka menggunakan batu, tanah, bahkan tiang tenda untuk mengembalikan pasukan ke garis depan.

Meski mayoritas tugas mereka berkaitan dengan dukungan logistik dan kemanusiaan, sejumlah perempuan juga tercatat terjun langsung mengangkat senjata. Sejarah Islam mengabadikan banyak nama yang menunjukkan keberanian luar biasa di medan perang.

Tokoh yang paling dikenal adalah Ummu Umarah atau Nusaibah binti Ka'ab. Dalam Perang Uhud, ia berdiri di dekat Rasulullah SAW dan bertempur mempertahankan beliau dari serangan musuh. Dengan pedang di tangan, Nusaibah terus bertahan meski tubuhnya mengalami banyak luka akibat serangan lawan.

Ketika jumlah pasukan muslim jauh lebih sedikit dibandingkan musuh, perempuan juga mengambil bagian dalam menjaga keamanan kamp militer. Mereka melakukan ronda malam agar para prajurit laki-laki dapat beristirahat dan memulihkan tenaga setelah bertempur sepanjang hari.

Dalam Pertempuran Yarmuk, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah memilih memimpin sendiri patroli malam karena tidak ingin membebani pasukannya yang kelelahan. Melihat hal tersebut, Asma binti Abi Bakar mengumpulkan para perempuan muslim untuk ikut menjaga keamanan perkemahan. Mereka berpatroli mengelilingi barak dengan menyandang pedang, menunjukkan kesiapan untuk menghadapi segala kemungkinan ancaman.

Pemandangan itu menjadi salah satu potret penting dalam sejarah Islam, ketika seorang panglima besar dan putri Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq bersama-sama menjaga keamanan pasukan pada malam hari.

Berbagai catatan sejarah tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki kontribusi besar dalam perjalanan peradaban Islam. Mereka hadir sebagai perawat, pengelola logistik, penasihat, penjaga keamanan, penyemangat pasukan, hingga pejuang yang terjun langsung ke medan laga. Ketangguhan para shahabiyah membuktikan bahwa perjuangan membangun dan mempertahankan umat merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan laki-laki maupun perempuan sesuai kapasitas masing-masing.

Sejarawan Dr. Ahmad Syauqi Al-Fanjari dalam karya Tarikhul Ilmi wa Dawrul Ulama al-Arab fi Taqaddumihi menempatkan kontribusi perempuan muslim sebagai bagian penting dari perkembangan masyarakat Islam awal. Sejumlah fakta serupa juga dapat ditemukan dalam literatur klasik seperti Al-Isti'ab fi Ma'rifatil Ashab karya Ibnu Abdil Barr, Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, serta Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri yang merekam kiprah para sahabat dan shahabiyah dalam berbagai fase perjuangan Islam.

 


Topik

Pendidikan shahabiyah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jombang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Nurlayla Ratri

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan