JATIMTIMES - Baru-baru ini sebuah video yang membahas penggunaan obat HIV dan program pencegahan HIV menjadi perbincangan di media sosial. Dalam video tersebut, dua orang pria menyampaikan pesan bahwa status HIV bukanlah pembeda antarmanusia.
"Aku HIV positif, aku HIV negatif, aku on ARV, aku on PrEP, aku sehat, aku juga sehat, aku seorang manusia, aku pun manusia, jadi gak ada yang beda," demikian narasi dua lelaki tersebut. Berdasarkan komentar warganet, diduga keduanya merupakan pelaku homoseksual dalam video yang beredar.
Baca Juga : Ini Ternyata Sosok yang Diduga Diuntungkan Saat Nilai Tukar Rupiah Rp 18 RibuĀ
Video itu kemudian mendapat tanggapan dari akun Instagram bertema dakwah, inspirasi, dan motivasi @musisipensiun. Melalui unggahannya, akun tersebut mempertanyakan penggunaan dana negara untuk membiayai obat HIV gratis dan program pencegahan HIV.
Dalam videonya, akun tersebut menyinggung terapi antiretroviral (ARV) bagi orang dengan HIV serta penggunaan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi tertular HIV.
"Mereka bilang aku HIV positif, aku HIV negatif, aku sedang on ARV, aku on PrEP katanya," ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan fungsi ARV menurut pemahamannya.
"Dia bilang aku on ARV, artinya antiretroviral. Adalah obat untuk pengobatan HIV yang wajib dikonsumsi seumur hidup oleh mereka yang sudah positif HIV. Fungsinya sebatas agar virus tidak berkembang. Fungsinya bukan mengobati, tapi hanya menahan virus untuk tidak berkembang," katanya.
Selain ARV, ia juga membahas PrEP yang digunakan sebagai langkah pencegahan penularan HIV.
"Satu lagi bilang aku on PrEP, yaitu Pre-Exposure Prophylaxis. Adalah obat pencegahan berisi kombinasi ARV yang diminum oleh orang-orang yang HIV negatif namun berisiko tinggi tertular," lanjutnya.
Menurutnya, yang menjadi persoalan bukan hanya penyakitnya, melainkan juga sikap yang ditampilkan sebagian pihak di media sosial.
"Yang lebih menyakitkan, obat ini digratiskan oleh pemerintah kepada orang-orang seperti mereka. Yang sumbernya diambil dari APBN. Yang salah satu sumbernya adalah pajak kita semua yang ditunaikan," ujarnya.
Ia pun mengkritik penggunaan anggaran negara untuk membiayai pengobatan tersebut.
"Demi Allah, kita tidak rela pajak-pajak yang kita tunaikan hanya untuk membiayai pengobatan dari penyakit-penyakit mematikan seperti ini," katanya.
Dalam bagian lain videonya, ia juga menyampaikan pandangannya terkait perilaku yang menurutnya berisiko menyebabkan penularan HIV.
"Yang menjadi masalah bukan sekadar penyakitnya. Tapi lihat coba, sikap yang mereka (para pelaku LGBT) tampilkan itu. Coba lihat, ketika mereka sudah mengetahui risiko dari suatu perbuatan. Dan telah pula berkali-kali diingatkan. Bahkan sudah merasakan sendiri akibatnya. Namun masih berusaha menampilkan seolah semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu disesalkan," ujarnya.
"Maka yang terjadi, sudah bukan lagi persoalan kesehatan. Ini telah berubah menjadi upaya menormalisasi perilaku yang mengundang bencana kepada masyarakat dan negara." imbuhnya.
Menurutnya, penyakit seharusnya menjadi pelajaran bagi seseorang.
Baca Juga : Dari 4.804 Suspek, Dinkes Kota Malang Temukan 925 Kasus TBC dalam Lima Bulan
"Ketika tidak ada seorang pun yang bergembira melihat orang yang terkena penyakit. Tapi khusus bagi kaum LGBT. Yang sakit lahir batin ini jauh lebih berbahaya. Karena musibah yang seharusnya menjadi pelajaran, justru mereka jadikan alat propaganda untuk mengatakan bahwa tidak ada masalah dengan jalan hidup yang mereka telah pilih. Dan meminta masyarakat untuk memaklumi mereka. Ya'udzubillah," pungkasnya.
Mengapa Obat HIV Ditanggung Pemerintah?
Di tengah perdebatan yang muncul di media sosial, pemerintah Indonesia memang menyediakan layanan pengobatan HIV secara gratis melalui fasilitas kesehatan pemerintah.
Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, terapi ARV merupakan bagian dari strategi nasional penanggulangan HIV/AIDS. Obat tersebut diberikan untuk menekan jumlah virus dalam tubuh, menjaga sistem kekebalan tubuh, meningkatkan kualitas hidup pasien, sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
ARV tidak menghilangkan HIV dari tubuh, tetapi mampu menekan jumlah virus hingga berada pada tingkat yang sangat rendah sehingga pasien dapat hidup lebih sehat dan produktif.
Karena itu, terapi ARV harus dikonsumsi secara rutin dan berkelanjutan.
"Obat ini jangan sampai putus. Seumur hidup loh ini obatnya!" kata mantan Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek, dikutip Minggu (7/6/2026).
Selain pengobatan, pemerintah juga menjalankan berbagai program pencegahan HIV, salah satunya melalui layanan PrEP yang diberikan kepada kelompok tertentu yang memiliki risiko tinggi tertular HIV berdasarkan pertimbangan medis.
Alasan Negara Menanggung ARV dan PrEP
Masih dikutip dari laman Kemenkes, pembiayaan ARV dan program pencegahan HIV bukan hanya ditujukan untuk kepentingan individu pasien, melainkan juga untuk melindungi kesehatan masyarakat secara luas.
Ketika seseorang dengan HIV mendapatkan terapi ARV secara rutin, jumlah virus dalam tubuh dapat ditekan hingga sangat rendah sehingga risiko penularan juga menurun secara signifikan.
Sementara itu, PrEP diberikan sebagai langkah pencegahan bagi individu yang belum terinfeksi HIV namun memiliki risiko tinggi terpapar virus tersebut.
Karena HIV merupakan penyakit menular, pendekatan yang digunakan pemerintah selama ini tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan penularan agar jumlah kasus baru dapat ditekan.
