JATIMTIMES - Bulan Juni menjadi momen bersejarah bagi sejumlah daerah di Jawa Timur. Setidaknya ada tiga kota yang memperingati hari jadinya pada bulan ini, yakni Kota Mojokerto, Kota Madiun, dan Kota Batu.
Menariknya, Kota Mojokerto dan Kota Madiun sama-sama merayakan hari jadi pada 20 Juni. Sementara Kota Batu memperingati hari lahirnya sehari setelahnya, yakni 21 Juni.
Baca Juga : BRIN Minta Maaf Usai Unggah Garuda Pancasila yang Salah, Begini Aturan yang Benar
Setiap kota memiliki latar belakang sejarah yang berbeda. Ada yang terbentuk pada masa pemerintahan Hindia Belanda, ada pula yang lahir sebagai daerah otonom pada era reformasi. Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk identitas dan perkembangan masing-masing daerah hingga saat ini.
1. Kota Mojokerto, Berdiri pada 20 Juni 1918
Hari jadi Kota Mojokerto diperingati setiap 20 Juni. Mengutip laman resmi Pemerintah Kota Mojokerto, tanggal tersebut merujuk pada Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 324 Tahun 1918 yang menetapkan Mojokerto sebagai Staadsgemeente atau kota yang memiliki pemerintahan sendiri.
Perjalanan Kota Mojokerto mengalami berbagai perubahan seiring pergantian pemerintahan. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942 hingga 1945, status kota ini berubah menjadi Sidan dan dipimpin seorang Si Ku Cho.
Setelah Indonesia merdeka, Kota Mojokerto sempat menjadi bagian dari Kabupaten Mojokerto pada periode 1945-1950. Selanjutnya, status pemerintahan daerah terus berkembang mengikuti regulasi nasional.
Melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1950, Mojokerto ditetapkan sebagai Daerah Otonom Kota Kecil. Status tersebut kemudian berubah menjadi Kota Praja berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957.
Perubahan kembali terjadi melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 yang menetapkan wilayah ini sebagai Kotamadya Mojokerto. Nama Kota Mojokerto seperti yang dikenal saat ini mulai digunakan setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
Kini, lebih dari satu abad setelah berdiri, Kota Mojokerto terus berkembang sebagai daerah yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Majapahit.
2. Kota Madiun, Sama-sama Merayakan Hari Jadi pada 20 Juni
Selain Mojokerto, Kota Madiun juga memperingati hari jadinya setiap 20 Juni. Berdasarkan informasi dari Pemerintah Kota Madiun, tanggal tersebut mengacu pada pembentukan Staads Gemeente Madiun oleh Pemerintah Hindia Belanda melalui Staatsblad Nomor 326 Tahun 1918.
Meski demikian, sejarah Madiun sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum masa kolonial. Pada era Kerajaan Majapahit, wilayah selatan Madiun dikenal sebagai Gagelang yang dipimpin Adipati Gugur, putra Raja Brawijaya.
Ketika Kerajaan Mataram berkuasa, beberapa kawasan di Madiun seperti Taman dan Kuncen berstatus tanah pardikan. Status ini memberikan hak-hak istimewa tertentu kepada masyarakat setempat, termasuk pembebasan dari kewajiban pajak tertentu.
Seiring perkembangan zaman, pusat pemerintahan kemudian bergeser ke wilayah yang kini menjadi pusat Kota Madiun. Daerah ini juga dikenal sebagai tempat lahir sejumlah tokoh penting, salah satunya Sentot Prawirodirdjo yang berperan dalam Perang Jawa bersama Pangeran Diponegoro.
Setelah berakhirnya Perang Jawa pada abad ke-19, pemerintah kolonial mulai membangun sistem administrasi modern di wilayah Madiun. Proses tersebut mencapai puncaknya pada 20 Juni 1918 saat Madiun resmi memperoleh status kota dengan pemerintahan sendiri.
Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Madiun dan terus diperingati hingga sekarang.
Baca Juga : Jelang SPMB 2026, Disdikbud Kota Malang Buka Simulasi Pendaftaran Selama 24 Jam
3. Kota Batu, Daerah Otonom yang Lahir pada 21 Juni 2001
Berbeda dengan Mojokerto dan Madiun yang memiliki sejarah sejak era kolonial, Kota Batu merupakan daerah otonom yang tergolong muda.
Hari jadi Kota Batu diperingati setiap 21 Juni. Tanggal ini mengacu pada pengundangan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Batu di Provinsi Jawa Timur.
Sebelum menjadi kota otonom, Batu berstatus sebagai kota administratif yang dibentuk melalui Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1993. Saat itu wilayahnya meliputi Kecamatan Batu, Bumiaji, dan Junrejo.
Pada dekade 1990-an, perkembangan Batu berlangsung cukup pesat. Pertumbuhan sektor pertanian, perdagangan, industri kecil, hingga pariwisata mendorong meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Jumlah penduduk yang terus bertambah juga membuat kebutuhan pelayanan publik semakin besar. Kondisi tersebut memunculkan aspirasi agar Batu memiliki pemerintahan daerah sendiri yang lebih mandiri.
Selain dikenal sebagai kawasan pertanian, Batu memiliki potensi wisata alam yang besar karena berada di wilayah pegunungan. Faktor ini menjadi salah satu alasan penting dalam pembentukan daerah otonom baru.
Aspirasi masyarakat akhirnya terwujud melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2001. Sejak saat itu, Kota Batu resmi berdiri sebagai daerah otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang.
Kini, Kota Batu dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur yang memiliki daya tarik alam, edukasi, hingga wisata keluarga.
Meski memiliki latar belakang sejarah yang berbeda, Kota Mojokerto, Kota Madiun, dan Kota Batu sama-sama menjadikan peringatan hari jadi sebagai momentum untuk mengenang perjalanan daerah sekaligus menatap masa depan.
Dari kota yang tumbuh pada masa kolonial hingga daerah otonom yang lahir di era reformasi, ketiganya menunjukkan bagaimana sejarah menjadi fondasi penting dalam membangun identitas dan kemajuan wilayah di Jawa Timur.
