Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

BBCA Anjlok ke Level Terendah, Waktunya Borong atau Tunggu? Ini Kata Analis

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

27 - Apr - 2026, 10:57

Placeholder
Tampak depan gedung BCA. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Saham BBCA milik PT Bank Central Asia Tbk mengalami tekanan cukup dalam pada penutupan perdagangan pekan lalu. Harga sahamnya terkoreksi 5,84% ke level Rp 6.050, menjadi titik terendah sejak masa pandemi Covid-19 pada 2021.

Penurunan ini juga dibarengi aksi jual besar-besaran investor asing. Dalam sehari, net foreign sell (NFS) di saham BBCA tercatat mencapai Rp 2,1 triliun.

Baca Juga : MS Glow Malang Half Marathon 2026 Dongkrak Ekonomi, Okupansi Hotel Tembus 80 Persen

Meski begitu, sejumlah analis menilai kondisi ini bukan karena fundamental perusahaan yang melemah, melainkan dipicu faktor eksternal dan situasi makroekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian.

Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menyebut tekanan tidak hanya terjadi pada BBCA. Sejumlah saham bank besar lainnya juga mengalami koreksi serupa.

Saham BMRI tercatat turun 2,81% ke level Rp 4.500 dengan net foreign sell mencapai Rp 655 miliar. Sementara BBRI melemah 2,85% ke Rp 3.070 dengan NFS Rp 447,3 miliar.

Menurut Jonathan, kondisi ini mencerminkan aksi penyesuaian portofolio oleh investor asing terhadap risiko makro Indonesia di tengah ketidakpastian global. "Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas. Kalau dilihat, seluruh big banks melemah sejak awal tahun dan disertai net foreign sell yang besar. Jadi, ini tekanan sektoral, bukan spesifik ke BBCA," ujarnya dalam keterangan resminya, dikutip Senin (27/4/2026).

Tekanan terhadap saham perbankan, termasuk BBCA, tak lepas dari kondisi global. Salah satu pemicu utamanya adalah konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang belum mereda.

Situasi ini mendorong harga energi tetap tinggi dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi global. Di sisi lain, nilai tukar juga mengalami pelemahan. "Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya bagi banyak perusahaan. Dampaknya, pertumbuhan laba emiten secara umum berpotensi melambat," tambahnya.

Selain itu, perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global serta peninjauan indeks oleh MSCI turut memicu keluarnya aliran dana asing dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Di tengah tekanan pasar, fundamental BBCA justru dinilai masih kuat. Perseroan bahkan terus menjaga daya tarik investor melalui kebijakan pembagian dividen interim hingga tiga kali dalam setahun.

Pada kuartal I-2026, BBCA mencatat laba bersih Rp 14,7 triliun atau tumbuh 4% secara tahunan.

Baca Juga : Pemkot Malang Usul TransJatim Lintasi Jalan Soekarno-Hatta

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, menilai kinerja tersebut masih sesuai ekspektasi pasar. "Laba BBCA tetap in-line dengan ekspektasi, dengan pendapatan non-bunga yang kuat mampu mengimbangi tekanan pada NIM," tulisnya dalam riset terbaru, sebagaimana dilansir detikfinance, Senin (27/4/2026). 

Pertumbuhan kredit BBCA tercatat sekitar 6% secara tahunan, dengan segmen korporasi menjadi penopang utama. Sementara segmen konsumer masih menghadapi tantangan, khususnya pada pembiayaan kendaraan.

Meski demikian, kualitas aset secara keseluruhan dinilai tetap terjaga. "Perbaikan kualitas aset di segmen wholesale mampu mengimbangi pelemahan kredit di segmen ritel, sehingga profil risiko secara keseluruhan masih terjaga," tulis riset tersebut.

Saat ini, BBCA tetap mempertahankan target kinerja 2026, termasuk pertumbuhan kredit di kisaran 8-10% dan net interest margin (NIM) 5,4-5,6%. BRI Danareksa Sekuritas juga masih memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp 10.900, jauh di atas posisi saat ini.

Menurut riset tersebut, valuasi saham BBCA saat ini sudah berada di bawah rata-rata historis dan mendekati batas bawah dalam beberapa tahun terakhir. "Valuasi saat ini mencerminkan tekanan pasar dan sudah berada di level yang relatif menarik, dengan downside yang dinilai terbatas," tulis riset tersebut.

Lantas bagaimana, saatnya borong saham atau tunggu dulu? Dari penjelasan kondisi di atas, di simpulkan bahwa pelemahan harga saham BBCA justru dilihat sebagian analis sebagai peluang bagi investor jangka panjang.

Namun tetap, keputusan investasi perlu mempertimbangkan profil risiko masing-masing serta dinamika global yang masih bergerak fluktuatif.


Topik

Ekonomi saham bbca saham bca bbca saham bca anjlok jonathan gunawan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jombang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya