JATIMTIMES – Ketidakpastian harga saat panen raya seringkali membuat petani di Kota Batu merugi. Menanggapi keresahan tersebut, kini mulai diterapkan skema kontrak pertanian untuk menjamin hasil panen terserap dengan harga yang adil. Hal ini dilakukan kolektif petani di koperasi Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (CooSAE).
Melalui sistem ini, petani lokal tidak lagi bertaruh dengan fluktuasi harga pasar yang tidak menentu. Setiap komoditas yang ditanam sudah memiliki calon pembeli atau offtaker tetap dengan kesepakatan harga yang dikunci sejak awal masa tanam.
Baca Juga : Minyakita Mulai Sulit Didapat, Pemkot Malang Siapkan Skenario Intervensi Harga
CEO CooSAE, Rakhmad Hardiyanto, menjelaskan bahwa kontrak ini sangat krusial untuk menjaga posisi tawar petani. Dengan adanya kontrak resmi, petani mendapatkan kepastian keuntungan karena harga beli ditetapkan di atas Harga Pokok Produksi (HPP).
"Kami menerapkan sistem kontrak dengan petani untuk menciptakan solusi saling menguntungkan. Harganya harus di atas HPP produksi, dengan penetapan batas bawah dan batas atas agar berkelanjutan," ujar Hardiyanto kepada JatimTIMES, belum lama ini.
Saat ini, sistem kontrak tersebut telah berhasil menghubungkan petani anggota koperasi di Kota Batu dengan berbagai vendor retail raksasa. Beberapa di antaranya adalah Super Indo, Lotte Grosir, hingga jaringan distribusi premium seperti Sweet Green Indonesia di Jakarta.
Selain menjamin harga, kontrak ini juga menuntut standarisasi kualitas yang ketat. Produk yang akan dikirim melalui jalur B2B (Business to Business) wajib melewati proses sortir, grading, hingga pengemasan yang terstandar di tingkat koperasi.
Sistem kontrak ini juga mulai menyasar generasi petani muda melalui skema close loop pada pertanian hidroponik. Para petani milenial ini diberikan kepastian bahwa hasil panen mereka akan langsung diserap oleh ekosistem untuk dipasarkan ke modern market.
Baca Juga : Amanat Khalifah dan Luka Bumi dalam Pandangan Ilahi
"Jadi petani tidak perlu bingung lagi soal siapa yang akan membeli dan berapa harganya. Semuanya sudah terkunci dalam sistem kontrak, sehingga mereka bisa fokus meningkatkan kualitas produksi," imbuh pria yang disapa Hardi itu.
Untuk menjaga transparansi, setiap kontrak dan ketersediaan stok dipantau secara digital melalui aplikasi berbasis AI. Para penyerap atau vendor dapat memantau jadwal panen secara real-time untuk memastikan pasokan barang terjaga sesuai kontrak.
Melalui penguatan contract farming, Kota Batu diharapkan mampu memutus ketergantungan petani pada tengkulak. "Ini menjadi strategi jitu untuk meningkatkan nilai ekonomi produk lokal sekaligus menjamin pasar bagi petani secara jangka panjang," tutupnya.
