JATIMTIMES - Perbincangan tentang pembangunan nasional kembali menempatkan perempuan sebagai aktor kunci, bukan sekadar pelengkap. Dalam konteks Indonesia yang masih menghadapi ketimpangan kualitas sumber daya manusia, peran perempuan, terutama dalam sektor pendidikan dan keluarga, dinilai menjadi faktor penentu arah masa depan bangsa.
Pandangan itu mengemuka dalam talkshow bertema “Strong Women Strong Nation” yang digelar di Balaikota Among Tani, Kota Batu, Minggu, (12/4/2026). Rektor Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., menegaskan bahwa pembangunan tidak cukup hanya bertumpu pada kebijakan makro, tetapi juga pada fondasi mikro yang dibentuk dari keluarga, di mana perempuan memegang kendali strategis.

Menurut Ilfi, kualitas manusia Indonesia sangat ditentukan oleh akses dan keberlanjutan pendidikan, yang dalam praktiknya banyak dimediasi oleh peran perempuan. Ia menyoroti bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi produsen utama kualitas generasi.
Baca Juga : KNMP Pujiharjo Sudah Beroperasi, Tiga Fasilitas Menunggu Dibangun Pusat
“Ada dua mandat utama manusia: sebagai hamba Tuhan dan sebagai pemimpin. Keduanya menuntut fondasi keimanan sekaligus penguasaan ilmu. Di titik ini, perempuan memegang peran penting dalam memastikan keduanya berjalan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa isu pendidikan perempuan bukan lagi soal kesetaraan semata, melainkan investasi strategis negara. Ketika perempuan memiliki akses pendidikan yang baik, dampaknya bersifat multiplikatif, mulai dari peningkatan kualitas keluarga hingga daya saing bangsa secara keseluruhan.
Lebih jauh, Ilfi menggarisbawahi posisi perempuan dalam keluarga sebagai pengambil keputusan yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari pengelolaan ekonomi rumah tangga hingga pembentukan karakter anak. Dalam kerangka ini, perempuan berfungsi sebagai “manajer kualitas hidup” yang menentukan stabilitas sosial dalam skala kecil, yang kemudian berkontribusi pada stabilitas nasional.
“Perempuan mengelola bukan hanya emosi, tetapi juga keuangan dan spiritualitas dalam keluarga. Di situlah fondasi negara dibentuk,” jelasnya.
Pandangan ini sejalan dengan berbagai kajian pembangunan yang menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas perempuan berkorelasi langsung dengan penurunan angka kemiskinan, peningkatan kesehatan keluarga, dan kualitas pendidikan anak.
Baca Juga : Tebing 15 Meter di Kota Batu Ambrol Timpa Kandang Warga
Selain Ilfi, forum tersebut juga menghadirkan tokoh dari sektor korporasi dan kewirausahaan seperti Dr. Ir. Ira Puspadewi, MDM dan Mulyani Hadiwijaya, yang memperkuat perspektif lintas sektor tentang pentingnya kepemimpinan perempuan dalam ruang publik dan ekonomi.

Diskusi yang dimoderatori oleh Dahlan Iskan bersama Istri Wakil Wali Kota Batu, Ridha Agusta Susandra, memperlihatkan bahwa isu perempuan tidak lagi berada di pinggiran wacana, melainkan telah masuk ke inti strategi pembangunan.
Di tengah berbagai tantangan, mulai dari ketimpangan akses pendidikan, tekanan sosial, hingga beban ganda yang masih melekat, Ilfi menekankan pentingnya membangun ketangguhan perempuan sebagai prasyarat perubahan.
“Tekanan tidak boleh menjadi beban psikologis, tetapi harus diolah menjadi energi untuk tumbuh. Perempuan hari ini dituntut bukan hanya kuat, tetapi juga berdampak,” pungkasnya.
