JATIMTIMES - Di sudut sunyi Kotagede, di antara reruntuhan bangunan tua dan makam-makam yang menyimpan jejak sejarah, tersimpan kisah tentang awal mula berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Ki Ageng Juru Mertani, yang memiliki nama kecil R. Abdurahman, adalah sosok yang tak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Mataram Islam.
Pada akhir abad ke-16, wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kotagede ini bukan sekadar permukiman biasa, melainkan pusat kekuasaan yang kelak menjadi cikal bakal kerajaan besar di tanah Jawa. Dari sinilah, Panembahan Senopati mulai merintis langkahnya, didampingi oleh seorang penasihat bijak yang jarang dikenal oleh khalayak luas: Ki Juru Martani.
Baca Juga : Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Pj Wali Kota Malang: Landasan Tepat Wujudkan Indonesia Emas
Sebagai cucu dari Ki Ageng Selo dan cicit dari Sunan Giri, garis keturunan dan keilmuan Ki Ageng Juru Martani tak diragukan lagi. Namun, di balik silsilahnya yang mulia, Ki Ageng Juru Mertani adalah figur yang lebih dikenal bukan karena ambisi kekuasaan, melainkan karena kebijaksanaan dan kecerdasannya yang luar biasa dalam strategi dan ilmu pemerintahan. Ia adalah seorang negarawan yang lahir dari seorang petani, tetapi memiliki wawasan yang melampaui batas-batas zamannya.
Silsilah dan Keturunan Ki Ageng Juru Martani
Silsilah Ki Ageng Juru Mertani merupakan bagian penting dari sejarah Jawa, khususnya terkait dengan dinasti Mataram Islam. Silsilah ini diawali dari Syekh Maulana Ishaq, juga dikenal sebagai Syekh Wali Lanang, yang berasal dari Baghdad dan menikah dengan Dewi Sekardadu, putri dari Raja Siyunglaut di Blambangan. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Sunan Giri I (Prabu Satmoto), yang menjadi raja di Giri Kedaton.
Sunan Giri I menikah dengan Nyai Ageng Ratu, putri Sunan Ampel Denta, yang menurunkan Sunan Giri II atau Sunan Giri Dalem. Sunan Giri II menikah dengan putri Sunan Mojogung II dari Gunung Jati dan memiliki beberapa keturunan, termasuk Sunan Giri III (Sunan Prapen) dan Pangeran Songeb ing Sobo, yang juga dikenal sebagai Panembahan Kawisguwo atau Panembahan Pakeringan.
Pangeran Songeb ing Sobo kemudian menikah dengan Roro Janten, putri Ki Ageng Selo, dan mereka memiliki beberapa anak, salah satunya adalah Ki Ageng Juru Mertani. Ki Ageng Juru Mertani dikenal sebagai tokoh penting dalam pendirian Mataram Islam dan menjabat sebagai Mahapatih Kraton Mataram Islam dengan gelar Panembahan Adipati Mandaraka.
Dari pernikahannya dengan putri Ki Ageng Jakariya Ngalimdahu, Ki Ageng Juru Mertani memiliki beberapa anak, termasuk Pangeran Manduranagoro, yang menjadi patih pada masa Sultan Agung, dan Pangeran Juru Wiroprobo. Pangeran Manduranagoro menikah dengan Roro Sobrah, putri Ki Ageng Pemanahan, yang menurunkan keturunan penting dalam dinasti Mataram, seperti Pangeran Manduraredja.
Keturunan Ki Ageng Juru Mertani terus berkembang dalam lingkup keraton dan berperan dalam berbagai peristiwa penting kerajaan, termasuk dalam perang dan pergantian tahta. Keturunan dari jalur ini juga terkait dengan berbagai tokoh penting lainnya, seperti Sunan Pakubuwana dan Sultan Hamengkubuwana. Sebagai contoh, salah satu keturunannya adalah Raden Ayu Sosrokusumo, yang menjadi garwa ampil Sunan Pakubuwana V dan melahirkan Sunan Pakubuwana VI.
Ki Ageng Juru Mertani dan keturunannya memainkan peran sentral dalam pengukuhan kekuasaan Mataram dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah kerajaan Jawa.
Masa Muda dan Pendidikan
Ki Ageng Juru Mertani merupakan murid dari dua tokoh besar yang sangat mempengaruhi kehidupannya: Ki Ageng Selo dan Sunan Kalijaga. Kedua tokoh ini bukan hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu ketatanegaraan, filsafat, dan strategi. Jika kebanyakan bangsawan muda pada masanya lebih tertarik untuk mengasah keterampilan fisik, Ki Ageng Juru Mertani lebih tertarik pada olah rasa dan pengembangan intelektual. Ia mendalami filsafat, psikologi, dan strategi perang, yang kelak akan menjadi kunci keberhasilannya dalam mendirikan Mataram Islam.
Kehidupan mudanya dihabiskan bersama Ki Ageng Pemanahan, sepupu sekaligus kakak iparnya. Persahabatan ini tidak hanya terjalin melalui darah, tetapi juga visi yang sama untuk masa depan Jawa. Ki Ageng Juru Mertani sering kali menjadi penasehat dan pemberi semangat bagi Ki Ageng Pemanahan, terutama dalam menghadapi tantangan-tantangan politik dan militer.
Peran dalam Sayembara Arya Penangsang
Peran penting Ki Ageng Juru Mertani dalam sejarah Mataram Islam dimulai ketika ia memberikan strategi dan nasehat kepada Ki Ageng Pamanahan dan R. Panjawi untuk ikut serta dalam sayembara membunuh Arya Penangsang, musuh Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Dengan kecerdasannya, ia menyusun rencana yang cermat, di mana Danang Sutawijaya, putra Ki Ageng Pamanahan, berhasil mengalahkan Arya Penangsang.
Keberhasilan ini membawa penghargaan besar dari Sultan Hadiwijaya, yang memberikan hadiah berupa tanah hutan Mentaok kepada Ki Ageng Pamanahan dan Ki Ageng Juru Mertani. Di sinilah cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam dimulai. Hutan Mentaok kemudian menjadi wilayah yang subur, dan pusat pemerintahan baru dipilih di Kotagede, berkat nasehat bijak dari Ki Ageng Juru Mertani.
Pembentukan Mataram Islam
Setelah wafatnya Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Juru Mertani melanjutkan perannya sebagai penasehat utama bagi putra Ki Ageng Pamanahan, Panembahan Senopati. Salah satu nasehat terpenting yang diberikan Ki Ageng Juru Mertani adalah agar Panembahan Senopati tidak memusuhi Sultan Hadiwijaya, orang yang telah memberikan tanah Mentaok kepada keluarga mereka. Dengan rendah hati dan bijaksana, Ki Ageng Juru Mertani mengingatkan:
"Ngger, janganlah kamu memusuhi Sultan Hadiwijaya yang tak lain adalah orangtuamu dan juga gurumu. Aku malu karena kita yang berada di perdikan Mataram sepertinya tidak tahu membalas budi baiknya. Bukankah kita telah diberi tanah dan wilayah untuk kita tempati dan kita bangun oleh beliau? Aku minta Ngger, lebih baik sekarang mintalah dan berdoalah kepada Allah, jikalau Sultan Hadiwijaya wafat, Angger bisa menggantikannya. Tapi sekarang jangan sekali-kali memusuhi beliau."
Baca Juga : Ini Ternyata Hukum Kebiasaan Makan Dulu Baru Bayar dalam Islam, Boleh atau Tidak?
Dengan nasehat tersebut, Panembahan Senopati akhirnya memilih untuk berdoa dan bertapa, dan di sanalah ia menerima petunjuk yang dikenal sebagai "wahyu Lintang Jauhari" untuk mendirikan keraton Mataram di Kotagede. Keberhasilan ini lagi-lagi tidak terlepas dari peran Ki Ageng Juru Mertani, yang tidak hanya memberikan saran, tetapi juga membimbing Panembahan Senopati dalam mewujudkan mimpinya.
Peran sebagai Mahapatih Mataram
Dalam pemerintahan Mataram, Ki Ageng Juru Mertani dianugerahi gelar Panembahan Mandaraka dan diangkat menjadi Mahapatih pertama Kerajaan Mataram Islam. Sebagai seorang Mahapatih, ia memainkan peran penting dalam mengelola pemerintahan, menyusun strategi, dan menjaga stabilitas kerajaan yang baru berdiri ini.
Meski ia jarang terlibat dalam pertempuran fisik, Ki Ageng Juru Mertani dikenal sebagai sosok yang sakti dan mumpuni dalam ilmu spiritual. Kebijaksanaannya dalam menata kerajaan dan menasehati Panembahan Senopati sangat dihargai, dan ia terus menjadi penasehat utama hingga akhir hayatnya.
Warisan Ki Ageng Juru Mertani
Ki Ageng Juru Mertani bukan hanya seorang negarawan, tetapi juga seorang pemikir yang visioner. Ia memahami bahwa kekuatan sebuah kerajaan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan militernya, tetapi juga oleh kebijaksanaan pemimpinnya dalam mengelola negara dan rakyatnya. Dalam setiap nasehatnya, Ki Ageng Juru Mertani selalu menekankan pentingnya keharmonisan, kesabaran, dan kerja sama. Ia percaya bahwa sebuah kerajaan yang kuat harus dibangun di atas dasar moral yang kokoh, bukan hanya kekuatan fisik.
Warisan terbesar Ki Ageng Juru Mertani adalah keberhasilannya dalam membantu mendirikan Mataram Islam dan memberikan fondasi yang kuat bagi kerajaan tersebut untuk berkembang menjadi salah satu kerajaan terbesar di Jawa. Meskipun ia tidak mengejar kekuasaan, pengaruhnya terasa di setiap aspek pemerintahan Mataram.
Sebagai Mahapatih dan penasehat utama, Ki Ageng Juru Mertani selalu berada di belakang layar, memberikan arahan yang bijak bagi para pemimpin Mataram. Kepemimpinannya yang tenang, sederhana, dan penuh kebijaksanaan menjadikannya panutan bagi generasi-generasi berikutnya.
Akhir Hayat dan Peninggalan
Ki Ageng Juru Mertani wafat pada tahun 1615 dan dimakamkan di Astana Kotagede, Yogyakarta, tempat yang sama dengan para raja dan pahlawan besar Mataram. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, terutama bagi Panembahan Senopati yang kehilangan salah satu penasehat terdekatnya.
Namun, meski fisiknya telah tiada, warisan pemikiran dan kebijaksanaan Ki Ageng Juru Mertani terus hidup dalam sejarah Mataram. Pendirian Mataram Islam tidak akan pernah terwujud tanpa kontribusi besar dari sang Mahapatih, seorang petani yang menjadi negarawan ulung, Ki Ageng Juru Mertani.
Namanya akan selalu dikenang sebagai sosok yang membangun pondasi kerajaan yang kuat, dengan kebijaksanaan yang tak lekang oleh waktu.
