Sanggah Tudingan Pesantren Cabul, Ketua MUI: Banyak Pesantren Berkualitas di Malang
Reporter
Ashaq Lupito
Editor
Yunan Helmy
01 - Jun - 2026, 07:47
JATIMTIMES - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pesantren Dr H Ahmad Fahrur Rozi menegaskan, banyak pesantren berkualitas di Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Pernyataan tersebut sekaligus ditujukan untuk menyanggah tudingan seorang pendakwah agama Islam yang dikenal dengan nama Sisca Farisa Dhona atau Ning Sisca. Seperti diketahui,Ning Sisca menyebut marak kasus dugaan kiai cabul berkedok pesantren di Malang.
Baca Juga : 10 Maskapai dengan Makanan Pesawat Terenak di Dunia 2026, Garuda Indonesia Masuk Daftar
"Saya meyakini jauh lebih banyak pesantren di Kabupaten Malang yang baik, bersih, dan sungguh-sungguh mengabdikan diri untuk mendidik anak bangsa daripada oknum-oknum yang melakukan pelanggaran," tegas sosok yang karib disapa Gus Fahrur ini saat dikonfirmasi JatimTIMES.
Kendati menyayangkan tudingan yang disampaikan Ning Sisca, Gus Fahrur memastikan tetap mendukung penindakan tegas terhadap pelaku jika memang ada dugaan kekerasan seksual di lingkungan pesantren.
"Kalau memang ada kasus pidana atau kekerasan seksual di lingkungan tertentu, silakan disebutkan secara jelas dan kami mendukung untuk diproses sesuai hukum. Namun jangan karena beberapa oknum, lalu seluruh pesantren di Malang digeneralisasi dan diberi cap buruk," ujarnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, beredar video viral saat Ning Sisca menyebut banyak dugaan kasus kiai cabul yang berkedok pesantren di Malang. Pernyataan tersebut disampaikan Ning Sisca saat menyampaikan ceramah di sebuah agenda pengajian, sebagaimana yang terlihat dalam video yang kini viral tersebut.
Ning Sisca mengatakan, kasus dugaan maraknya kiai cabul di pesantren Malang tersebut kini sedang ditelusuri oleh Gus Thuba selaku pendiri komunitas sosial-spiritual bernama Yakuza Maneges.
Sebagaimana diketahui, sejak di deklarasikan pada awal Mei 2026, organisasi Yakuza Maneges juga aktif pada beragam kegiatan. Termasuk memberikan pendampingan pada beberapa kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami oleh para santriwati di lingkungan pondok pesantren.
Pernyataan yang disampaikan Ning Sisca itulah yang kemudian menuai polemik. Sebab, hingga saat ini, Ning Sisca juga tidak menyampaikan fakta dan data pada tudingannya tersebut.
"Di Kabupaten Malang terdapat ratusan pesantren dengan puluhan ribu santri yang setiap hari belajar agama, akhlak, dan ilmu pengetahuan. Pertanyaannya, berapa jumlah pesantren yang dimaksud? Di mana datanya?" ujar Gus Fahrur.
Menanggapi tudingan tersebut, Gus Fahrur juga turut mengajak sejumlah pihak untuk bersama-sama bersikap adil. Jika memang ada yang salah, pihaknya akan mendukung agar pelakunya ditindak tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Baca Juga : Pelajar 14 Tahun Asal Pakisaji Tewas Tenggelam di Embung Babadan Ngajum
"Tetapi jangan menghukum seluruh pesantren dengan tuduhan yang tidak proporsional. Jangan sampai pernyataan yang tidak didukung fakta justru berubah menjadi fitnah dan pembunuhan karakter terhadap lembaga pendidikan Islam," tandasnya.
Gus Fahrur menyebut, dalam tradisi keilmuan dan etika publik, setiap pernyataan harus didasarkan pada data yang valid sehingga bukan justru sekadar asumsi atau bahkan sensasi.
"Kebebasan berbicara harus disertai tanggung jawab moral agar tidak menimbulkan keresahan dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap lembaga (pesantren, red) yang telah banyak berjasa bagi bangsa ini," pungkas Gus Fahrur yang juga sekaligus ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bidang keagamaan ini.
Hingga saat ini JatimTIMES masih membuka ruang konfirmasi kepada Ning Sisca. Upaya konfirmasi yang disampaikan wartawan termasuk melalui Facebook Messenger sejak Minggu (31/5/2026) malam, hingga hari ini, Senin (6/5/2026), belum mendapatkan jawaban.
Di sisi lain, akun Facebook atas nama Sisca Farisa Dhona tersebut hingga kini juga masih aktif memposting agenda pengajiannya. Sementara pada akun TikTok-nya, Ning Sisca juga masih aktif memposting saat ia berceramah.
Bahkan, postingan yang menyebut ihwal tudingan marak dugaan kiai cabul berkedok pesantren di Malang yang di-posting dua hari lalu hingga kini juga masih bisa diakses meski telah menuai beragam polemik.
