Untung dengan Harga Cabai 90 Ribu per Kilo, Petani Lesanpuro Hadapi Lonjakan Biaya Produksi
Reporter
Riski Wijaya
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
04 - Mar - 2026, 12:05
JATIMTIMES - Kenaikan harga hasil panen membawa angin segar bagi petani di Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang. Namun di balik tingginya harga, beban biaya produksi justru ikut melonjak akibat serangan hama yang meningkat saat musim hujan.
Anggota Kelompok Tani Sido Makmur, Kelurahan Lesanpuro, Sunarto, mengatakan harga pada panen pertama sempat berada di angka Rp 75 ribu per kilogram. Namun pada panen kedua, yang berlangsung Selasa lalu, harga naik menjadi Rp 90 ribu per kilogram.
Baca Juga : Satgas Pangan Polresta Malang Kota Perketat Pengawasan Bahan Pokok, Waspadai Penimbunan Jelang Lebaran 2026
“Harga pemanenan pertama itu masih agak turun, Rp 75 ribu. Terus panen kedua mencapai Rp 90 ribu, kemarin hari Selasa,” ujar Sunarto.
Ia menduga kenaikan harga terjadi karena pasokan dari luar daerah berkurang. Saat ini, suplai yang masuk ke pasar-pasar di Kota Malang lebih banyak berasal dari kelompok tani setempat.
“Mungkin penyuplai dari daerah lain tidak ada. Jadi yang memasok di pasar-pasar sini ya dari kelompok tani yang ada di Kota Malang. Jadi terjadi kekurangan,” jelasnya.
Meski harga tinggi menguntungkan petani, kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri. Curah hujan yang tinggi memicu perkembangan hama, terutama thrips dan kutu kebul, yang menyerang tanaman lebih masif dibanding musim kemarau.
“Kalau dari petani sangat diuntungkan dengan harga tinggi. Tetapi musim hujan seperti ini, hama sangat banyak. Thrips, kutu kebul itu sangat menyerang. Hujan malam seperti tadi itu bikin hama cepat berkembang,” ungkapnya.
Akibatnya, kebutuhan obat-obatan pertanian meningkat drastis. Jika pada musim kemarau penggunaan pestisida hanya sekitar 50 persen, saat musim hujan bisa mencapai 100 persen atau dua kali lipat.
Dalam kondisi normal tanpa hujan, penyemprotan dilakukan satu kali dalam sepekan. Namun saat curah hujan tinggi seperti sekarang, petani harus melakukan penyemprotan dua hingga tiga kali dalam seminggu.
Baca Juga : Pencairan TPP ASN Pemprov Diperketat, BKD Jatim Tutup Celah Tunjangan Dobel
“Biaya produksi sangat tinggi sekarang, karena curah hujan lebat,” katanya.
Dari sisi produksi, Sunarto mengelola lahan seluas 2.000 meter persegi. Pada puncak panen, hasil produksi bisa mencapai 350 kilogram dalam sekali panen. Namun untuk mencapai fase tersebut, tanaman harus melalui sekitar sembilan hingga sebelas kali panen.
Pada panen pertama, hasil yang diperoleh hanya 19 kilogram. Panen kedua meningkat menjadi 80 kilogram. Produksi akan terus naik hingga mencapai puncak sekitar 350 kilogram per panen di lahan seluas 2.000 meter persegi tersebut.
Dengan kondisi harga yang sedang tinggi dan tantangan cuaca yang tak menentu, petani di Lesanpuro kini berada di antara peluang keuntungan dan risiko membengkaknya biaya produksi.
