JATIMTIMES - Upaya membaca ulang relasi manusia dan tanah terus diasah mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) lewat praktik langsung di lapangan. Lewat Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mata kuliah Konservasi Lahan dan Air, mereka turun ke kawasan lereng rawan degradasi di Dusun Gubug Klakah, belum lama ini, untuk menguji teori, bukan di kertas, tapi di tanah yang nyata.
Kegiatan yang dipandu langsung dosen pengampu Dwi Kurniawati ini menyasar lahan perkebunan milik warga di wilayah berlereng. Lokasi tersebut dipilih karena karakter topografinya yang menantang dan rentan terhadap erosi, sekaligus relevan untuk mengasah kepekaan mahasiswa terhadap isu konservasi berbasis konteks lokal.
Baca Juga : Teman Baik Salurkan Bantuan Seribu Paket Makanan hingga Bulan Ramadan di Tengah Konflik Sudan
Di lapangan, mahasiswa melakukan pemetaan kondisi fisik lahan secara menyeluruh. Mereka mencermati kemiringan lereng, kerapatan vegetasi, jenis tanaman budidaya, hingga jejak-jejak erosi yang muncul di permukaan tanah. Praktik konservasi yang telah diterapkan petani, mulai dari terasering, tanam searah kontur, rorak, hingga pemanfaatan mulsa, dikaji satu per satu untuk menilai sejauh mana efektivitasnya menahan laju erosi dan menjaga kelembapan tanah.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori konservasi, tetapi diajak menilai secara kritis teknik yang diterapkan petani. Apakah teraseringnya sudah sesuai kaidah teknis? Apakah ada alternatif metode yang lebih efektif dan ekonomis? Dari situ mereka didorong merumuskan rekomendasi yang aplikatif dan sesuai karakter lokasi,” ujar Dwi Kurniawati saat memberikan arahan di lapangan.
Tak berhenti di situ, mahasiswa juga menguji kesesuaian lahan terhadap komoditas tertentu, seperti tembakau dan tanaman semusim lainnya. Evaluasi dilakukan melalui pengamatan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah pada beberapa titik sampel. Pengujian sederhana terhadap tekstur dan struktur tanah, daya infiltrasi, serta kandungan bahan organik menjadi dasar untuk membaca kualitas lahan sekaligus tingkat kerentanannya terhadap degradasi.
Seluruh temuan lapangan tersebut kemudian dikompilasi dan disusun dalam laporan ilmiah secara sistematis. Proses ini menjadi ruang latihan berpikir analitis, bagaimana membaca masalah, menimbang data, lalu merancang solusi konservasi yang bertanggung jawab.
Baca Juga : Dari Balik Tembok Lapas Malang, Warga Binaan Panen Raya Untuk Disalurkan ke Sumatera
Melalui KKL ini, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang mendorong mahasiswa tidak sekadar paham konsep, tetapi juga punya kepekaan ekologis. Pengalaman belajar di lereng Gubug Klakah diharapkan menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebagai calon pendidik dan praktisi geografi yang mampu berkontribusi nyata dalam mendukung pertanian berkelanjutan, karena masa depan pangan, jujur saja, ditentukan dari cara kita memperlakukan tanah hari ini.
