free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

AS Kembali Incar Greenland, Ini Alasan Pulau Es Arktik Jadi Penting

Penulis : Mutmainah J - Editor : A Yahya

07 - Jan - 2026, 11:37

Placeholder
Bendera dan pesona Greenland. (Foto: Wikipedia dan EPA)

JATIMTIMES - Greenland, pulau es raksasa di kawasan Arktik yang selama ini relatif sunyi, kembali menjadi sorotan dunia. Wilayah yang sebagian besar tertutup salju itu kini masuk dalam radar geopolitik global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan ketertarikannya untuk menguasai Greenland.

Pernyataan tersebut mencuat tak lama setelah Amerika Serikat melakukan operasi militer terhadap Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya dan membawa mereka ke New York. Di tengah dinamika itu, Trump secara terbuka menegaskan bahwa Greenland memiliki nilai strategis yang sangat penting bagi keamanan nasional AS.

Baca Juga : Dishub Kota Malang Kembali Sosialisasikan Gedung Parkir Kayutangan Heritage, Gratis Selama Sepekan

“Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Lokasinya sangat strategis. Saat ini, banyak kapal Rusia dan China beroperasi di sekitar wilayah tersebut,” ujar Trump, seperti dikutip dari BBC, Rabu (7/1/2026).

Keinginan Trump untuk membawa Greenland ke dalam wilayah Amerika Serikat bukanlah hal baru. Pada 2019, saat menjabat presiden untuk periode pertama, Trump sempat mengungkapkan niat membeli pulau tersebut. Namun, pemerintah Denmark dengan tegas menyatakan bahwa Greenland tidak untuk dijual.

Ambisi itu kembali dihidupkan Trump pada awal 2025, bersamaan dengan kembalinya ia ke Gedung Putih. Kini, isu Greenland kembali mencuat di tengah memanasnya persaingan global di kawasan Arktik.

Mengenal Greenland, Pulau Terbesar di Dunia

Greenland dikenal sebagai pulau terbesar di dunia yang bukan merupakan benua, dengan luas mencapai sekitar 2,16 juta kilometer persegi. Secara geografis, Greenland berada di Amerika Utara, namun secara politik berada di bawah kedaulatan Kerajaan Denmark selama hampir tiga abad.

Sekitar 80 persen wilayah Greenland tertutup lapisan es, menjadikannya salah satu kawasan paling ekstrem di dunia. Populasinya relatif kecil, hanya sekitar 56.000 jiwa, mayoritas berasal dari suku Inuit. Sebagian besar penduduk tinggal di pesisir barat daya, khususnya di sekitar ibu kota Nuuk.

Asal-usul Nama Greenland

Meski kini identik dengan es dan salju, para peneliti meyakini Greenland pada masa lampau memang memiliki wilayah hijau yang luas dan dipenuhi pepohonan, jutaan tahun sebelum zaman es mendominasi kawasan tersebut.

Versi lain menyebutkan nama Greenland berasal dari Erik the Red, seorang penjelajah Viking yang diasingkan dari Islandia. Untuk menarik pemukim baru, ia menyebut pulau tersebut sebagai “Green Land” atau tanah hijau agar terdengar lebih menarik.

Lapisan Es Mencair, Kekayaan Alam Mulai Terbuka

Dalam beberapa tahun terakhir, Greenland semakin dilirik dunia seiring mencairnya lapisan es akibat pemanasan global. Proses ini membuka akses terhadap berbagai sumber daya alam bernilai tinggi, seperti mineral tanah jarang, uranium, dan bijih besi.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa kepentingan Amerika Serikat terhadap Greenland bukan semata soal sumber daya alam.

“Kami membutuhkan Greenland demi keamanan nasional, bukan karena mineral,” tegasnya.

Pernyataan ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas Rusia dan China di kawasan Arktik. Sejumlah lembaga riset internasional menilai Arktik kini menjadi arena persaingan strategis baru antar negara adidaya.

Peran Penting Greenland dalam Pertahanan Global

Secara militer, Greenland memiliki arti strategis bagi Amerika Serikat. Sejak Perang Dunia II, AS telah menempatkan kehadiran militernya di wilayah tersebut. Hingga kini, AS masih mengoperasikan Pituffik Space Base sebelumnya dikenal sebagai Pangkalan Udara Thule yang menjadi bagian penting dari sistem pertahanan dan peringatan dini Amerika.

Baca Juga : Peserta Lomba Baca Berita Jatim Times 2026 Menyebar dari Aceh hingga Papua

Menurut Marc Jacobsen, akademisi dari Royal Danish Defence College, Greenland berada di jalur terpendek lintasan senjata nuklir dari Rusia ke Amerika Serikat melalui Kutub Utara.

“Jika Rusia meluncurkan misil ke AS, rute tercepatnya akan melintasi kawasan Arktik dan Greenland,” ujarnya.

Status Greenland di Bawah Denmark

Greenland berada di bawah kekuasaan Denmark sejak abad ke-18. Awalnya berstatus koloni, pada 1953 Greenland resmi menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Penduduknya memperoleh kewarganegaraan Denmark dan hak politik yang lebih luas.

Melalui referendum pada 1979, Greenland mendapatkan status otonomi, sehingga dapat mengatur urusan dalam negeri secara mandiri. Namun, kebijakan luar negeri dan pertahanan tetap menjadi kewenangan Denmark.

Transportasi Unik di Negeri Es

Kondisi geografis ekstrem membuat Greenland tidak memiliki jaringan jalan antarkota. Transportasi udara dan laut menjadi tulang punggung mobilitas penduduk.

Pesawat kecil, helikopter, dan kapal laut digunakan untuk menghubungkan kota-kota pesisir dan permukiman terpencil. Maskapai Air Greenland menjadi operator utama penerbangan domestik, sementara kapal feri dan kargo berperan penting dalam distribusi logistik.

Di wilayah pedalaman dan utara, kereta anjing masih digunakan, terutama saat musim dingin, sekaligus menjadi bagian dari tradisi masyarakat Inuit.

Wisata Alam Greenland yang Mendunia

Di balik kerasnya alam, Greenland menawarkan pesona wisata yang luar biasa. Salah satu destinasi paling terkenal adalah Ilulissat Icefjord, sebuah fjord yang dipenuhi gunung es raksasa dari gletser Sermeq Kujalleq.

Fenomena bongkahan es yang pecah dan mengapung di laut menjadikan kawasan ini diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2004. Selain itu, budaya Inuit, museum, dan kuliner khas di Nuuk juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan petualang.

Greenland bukan sekadar pulau es terpencil. Di balik lanskap beku dan populasi kecilnya, wilayah ini menyimpan nilai strategis, geopolitik, dan ekonomi yang membuatnya menjadi rebutan negara-negara besar. Tak heran jika ambisi Amerika Serikat terhadap Greenland terus berulang, seiring meningkatnya tensi global di kawasan Arktik.


Topik

Peristiwa Greenland denmark donald trump arklik



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jombang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

A Yahya