JATIMTIMES - Nama Wakil Wali Kota Blitar, Elim Tyu Samba (ETS), tengah menjadi sorotan publik setelah unggahan dari akun Facebook Lempardadunews viral di dunia maya. Akun tersebut mengunggah foto sang pejabat dengan keterangan yang menyinggung dugaan kasus penipuan dan penggelapan uang.
Dalam unggahannya, akun tersebut menulis, “Hemmm rill kah, gak malu kah Wakil Wali Kota Blitar, Jawa Timur, berinisial ETS dilaporkan oleh seorang pengusaha asal Makassar atas dugaan penipuan dan penggelapan uang Rp214 juta, yang disebut-sebut digunakan saat maju di Pilkada Serentak 2024.”

Unggahan itu langsung memicu ratusan komentar warganet. Sebagian besar komentar bernada sinis dan sindiran tajam terhadap gaya hidup pejabat yang dinilai tidak sejalan dengan etika publik. Tak sedikit yang menyebut peristiwa ini sebagai “drama politik berlapis utang” yang mencerminkan krisis moral pejabat publik.
Baca Juga : Instagram Habib Jafar Digeruduk Netizen Usai Onad Ditangkap Polisi, Warganet Minta Beri Nasihat
Dari hasil penelusuran, Polrestabes Makassar membenarkan adanya laporan dugaan penipuan tersebut dengan nomor LP/B/2440/XII/2024/SPKT/Polrestabes Makassar/Polda Sulsel. Meski laporan masuk sejak Desember 2024, penyelidikan baru berjalan aktif setelah surat perintah diterbitkan pada 8 Juli 2025. Hingga kini, pihak pelapor menyebut ETS belum memenuhi panggilan klarifikasi penyidik.
“Benar, yang bersangkutan sudah dipanggil, tapi sampai saat ini belum hadir untuk klarifikasi,” kata Kasat Humas Polrestabes Makassar, AKP Wahiduddin, Jumat (17/10/2025). Ia menambahkan, penyelidikan resmi dimulai setelah surat perintah penyidikan diterbitkan sekitar enam bulan setelah laporan masuk.
Di kolom komentar unggahan tersebut, publik seolah menjadi jaksa moral. Akun bernama Sulaiman Rastam menulis pendek namun tajam, “Siap-siap masuk Hotel Kambangan.” Komentar itu mendapat ratusan tanda suka dan tawa. Warganet lain menimpali dengan berbagai sindiran. Triana Gumilar menulis, “Dikira mau langsung balik modal, eh apesnya sekarang keuangan negara lagi diawasi Menkeu.” Sementara akun Rita So memberi nasihat bernada lembut, “Duit segitu, ngomong baik-baik dan kembalikan. Jangan nyusahin masyarakat.”

Tak kalah menarik, akun bernama Mas Berto menulis dalam bahasa Jawa yang sarat satire, “Wolak-walik e donyo. Jabatan ra go teko matimu, tapi kok belak-balikke utang demi jabatan.” Ungkapan itu dibagikan puluhan kali dan menjadi refleksi publik terhadap moralitas pejabat masa kini.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana pola pengawasan publik terhadap pejabat berubah drastis di era digital. Ruang media sosial menjadi arena terbuka tempat masyarakat mengekspresikan pandangan dan kritik moral. Ledakan komentar bukan sekadar luapan emosi, tetapi juga bentuk kekecewaan kolektif terhadap pejabat yang dinilai mengabaikan etika dan tanggung jawab publik.
Ungkapan sarkastik seperti “Hotel Kambangan” menjadi simbol frustrasi sosial masyarakat. Di balik nada sindiran, publik sebenarnya sedang menuntut kejujuran dan transparansi dari pejabat publik. Netizen kini tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga berperan sebagai pengawas moral yang lahir dari ruang digital, menguji sejauh mana integritas masih menjadi bagian dari jabatan pemerintahan.
Baca Juga : Mendikti Dorong Kampus dan Industri Bersinergi untuk Hilirisasi Riset dan Inovasi Nasional
Kritik publik terhadap ETS tidak semata soal dugaan utang pribadi, tetapi juga menyangkut persepsi tentang integritas dan kepatuhan terhadap hukum. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di era keterbukaan informasi, pejabat publik tidak bisa menghindar dari sorotan warganya.

Hingga berita ini ditulis, Elim Tyu Samba belum memberikan tanggapan resmi atas kritik warganet. Dugaan kasus penipuan dan penggunaan dana kampanye masih dalam tahap penyelidikan. Namun, derasnya sorotan publik menunjukkan bahwa isu ini telah berkembang menjadi perbincangan politik dan sosial yang sulit diabaikan.
