Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Teddy Singgung Dino Patti Djalal Hanya 3 Bulan Jadi Wamenlu, Ini Jejak Kariernya Sejak 1987

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

02 - Jun - 2026, 09:33

Placeholder
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya saat menanggapi kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal soal intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan. Dalam responsnya, Teddy sempat menyinggung masa jabatan Dino sebagai Wamenlu yang hanya berlangsung sekitar tiga bulan.

Pernyataan itu disampaikan Teddy melalui video yang diunggah akun Instagram Sekretariat Kabinet, @sekretariat.kabinet, pada Senin (1/6/2026).

Baca Juga : Pecah Cikal dan Pawai Budaya Buka Hari Jadi Ke-184 Tahun Desa Ngabab Pujon

Saat memberikan tanggapan, Teddy terlebih dahulu menyampaikan apresiasi terhadap masukan yang diberikan Dino. Namun di sela penjelasannya, ia menyinggung singkat masa pengabdian Dino di posisi Wakil Menteri Luar Negeri.

"Mohon izin menjawab masukan dari Bapak Dino. Saya mau luruskan beberapa hal. Sebelumnya, terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," tutur Teddy.

Ucapan tersebut kemudian memicu perhatian publik terhadap sosok Dino Patti Djalal yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu diplomat berpengaruh Indonesia.

Profil Singkat 

Jauh sebelum namanya dikenal, Dino telah meniti karier di lingkungan diplomasi Indonesia sejak 1987. Saat itu ia bergabung dengan Departemen Luar Negeri dan mulai menapaki berbagai posisi strategis yang kemudian mengantarkannya menjadi salah satu wajah diplomasi Indonesia di tingkat internasional.

Dino lahir di Beograd, Yugoslavia, pada 10 September 1965. Ia merupakan putra diplomat senior Indonesia, Hasyim Djalal. Latar belakang keluarga diplomat membuat masa kecilnya banyak dihabiskan di berbagai negara mengikuti penugasan sang ayah.

Pendidikan dasar dan menengah awal ditempuhnya di Indonesia, yakni di SD Muhammadiyah dan SMP Al Azhar. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat dan bersekolah di McLean High School.

Ketertarikannya pada dunia politik dan hubungan internasional membawanya melanjutkan studi di Carleton University, Kanada. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia memilih mengikuti jejak ayahnya dengan bergabung ke Departemen Luar Negeri RI pada 1987.

Karier akademiknya juga terus berkembang. Pada 1990, Dino meraih gelar Magister Ilmu Politik dari Simon Fraser University, Kanada.

Sementara gelar doktornya di bidang Hubungan Internasional diperolehnya dari London School of Economics and Political Science, Inggris, pada tahun 2000.

Perjalanan karier Dino di lingkungan diplomasi berlangsung bertahap. Pada masa awal pengabdiannya, ia bertugas sebagai asisten Direktur Jenderal Politik.

Namanya mulai dikenal luas ketika dipercaya menjadi juru bicara pemerintah Indonesia dalam referendum Timor Timur pada 1999. Peran tersebut membuat sosoknya semakin sering muncul dalam berbagai forum diplomatik maupun pemberitaan internasional.

Tiga tahun kemudian, Dino dipercaya menduduki jabatan Direktur Urusan Amerika Utara. Posisi itu menjadi salah satu batu loncatan menuju berbagai jabatan penting berikutnya.

Pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), karier Dino semakin menanjak. Ia dipercaya sebagai Staf Khusus Presiden bidang Urusan Internasional.

Tak hanya itu, Dino juga menjalankan sejumlah peran strategis lain, mulai dari juru bicara kepresidenan, penasihat kebijakan luar negeri hingga penyusun pidato presiden. Ia dikenal sebagai salah satu juru bicara presiden dengan masa tugas terpanjang.

Keterlibatannya dalam berbagai isu internasional menjadikan Dino salah satu figur penting dalam diplomasi Indonesia pada masa tersebut.

Karier diplomatik Dino berlanjut ketika dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat pada periode 2010 hingga 2013. Selama bertugas di Washington DC, ia berperan dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat di berbagai sektor.

Baca Juga : Sanggah Tudingan Pesantren Cabul, Ketua MUI: Banyak Pesantren Berkualitas di Malang

Atas kontribusinya selama bertahun-tahun di bidang diplomasi dan pemerintahan, Dino menerima sejumlah penghargaan negara, termasuk Bintang Jasa Utama dan Bintang Mahaputra Adipradana.

Pada Juni 2014, Dino dipercaya mengisi posisi Wakil Menteri Luar Negeri RI. Masa jabatannya berlangsung hingga Oktober 2014 atau sekitar tiga bulan menjelang berakhirnya pemerintahan Presiden SBY.

Meski relatif singkat, jabatan tersebut menjadi salah satu posisi tertinggi yang pernah diembannya selama berkarier di birokrasi pemerintahan.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 2021, ia kembali dipercaya mengemban tugas di pemerintahan sebagai Penasihat Utama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat dipimpin Sandiaga Uno.

Setelah tidak lagi berada di pemerintahan, aktivitas Dino di bidang diplomasi dan hubungan internasional tidak berhenti.

Ia mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), sebuah komunitas yang berfokus pada isu kebijakan luar negeri dan berkembang menjadi salah satu forum terbesar di Indonesia dalam bidang tersebut.

Melalui organisasi itu, Dino melahirkan berbagai program, termasuk Supermentor dan konferensi kebijakan luar negeri tahunan yang melibatkan peserta dari dalam maupun luar negeri.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai penggagas Kongres Diaspora Indonesia yang mempertemukan warga Indonesia dari berbagai negara. Perannya dalam membangun jaringan diaspora membuatnya kerap dijuluki sebagai Bapak Diaspora Indonesia.

Di bidang kemanusiaan, Dino turut menggagas program 1000 Abrahamic Circles yang bertujuan memperkuat dialog dan toleransi antarumat beragama di tingkat global.

Di luar dunia diplomasi, Dino juga dikenal produktif sebagai penulis. Hingga kini ia telah menghasilkan 11 buku yang membahas berbagai tema, mulai dari kepemimpinan hingga hubungan internasional.

Salah satu karya yang paling dikenal adalah buku Harus Bisa yang mencatat penjualan tinggi di Indonesia.

Aktivitasnya bahkan sempat merambah dunia penyiaran. Dino pernah menjadi host di Mola TV dan melakukan wawancara dengan sejumlah figur ternama dari industri hiburan Hollywood.

Dengan rekam jejak yang dimulai sejak 1987, perjalanan karier Dino Patti Djalal membentang dari dunia diplomasi, pemerintahan, pendidikan, hingga komunitas internasional.

Karena itu, pernyataan Teddy yang menyinggung masa jabatan Wamenlu selama tiga bulan turut mengingatkan publik pada panjangnya kiprah Dino di panggung diplomasi Indonesia selama hampir empat dekade.


Topik

Peristiwa dino patti djalal teddy indra wijaya seskab wamenlu



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jombang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa