JATIMTIMES - Sering kali kita menjumpai popok bayi dibuang di aliran sungai. Rupanya, hal tersebut juga dipicu dari mitos suleten yang berkembang lama di kehidupan masyarakat. Fenomena tersebut kini jadi bahan penelitian para siswa madrasah di Kabupaten Jombang.
Seperti diketahui suleten atau dalam bahasa medis dikenal impertigo. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri. Kondisi ini biasanya muncul berupa ruam merah pada kulit.
Baca Juga : Selling on Village, Cara Kreatif Pemuda Blitar Angkat Potensi Kopi dan Wisata Desa Tulungrejo

Beberapa kasus, suleten kerap dialami oleh anak usia bayi. Biasanya suleten terjadi pada tangan dan kaki bayi hingga wajah. Bukannya diakui terjadi akibat bakteri, suleten ini malah diyakini banyak masyarakat karena akibat membakar popok bayi.
Hal tersebut pun telah melekat dan menjadi mitos di lingkungan masyarakat. Karena mitos itu, banyak masyarakat yang memilih membuang popok bayi atau diapers ke sungai ketimbang membakarnya bersama sampah lainnya.
Fenomena itu ditemukan berdasarkan hasil penelitian siswa MAN 1 Jombang terhadap kehidupan warga di Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. Penelitian yang dilakukan oleh Eka Destiana Sari (17) itu menemukan fakta bahwa 70 persen warga di desa tersebut membuang popok bayi ke sungai karena dampak mitos suleten.
"Awalnya saya melihat banyak masyarakat membuang diapers (popok bayi, red) ke sungai. Ketika saya survei tanya-tanya ke warga, ternyata 70 persen warga masih percaya mitos suleten. Sehingga mereka membuang diapers ke sungai. Kalau diapers dibakar itu menyebabkan bayinya suleten atau ruam-ruam atau gatal-gatal di kulit pantat maupun tangan," ujarnya saat diwawancarai wartawan, Kamis (01/09/2022).
Dikatakan Eka, akibat mitos suleten itu dampaknya sungai di Desa Jombatan kini tercemar limbah popok bayi.
"Diapers yang dibuang ke sungai akhirnya menjadi pencemaran lingkungan. Menimbulkan bau dan menimbulkan penyumbatan sehingga air tidak bisa mengalir lancar," terangnya.
Oleh sebab itu, ia membuat sebuah penelitian bersama temannya Iyyaka Qilaa Qolby (16). Penelitian tersebut dikerjakan bersama dengan didukung oleh pihak MAN 1 Jombang tempat mereka bersekolah.
Salah satu program dalam penelitian itu yakni melakukan sosialisasi ke masyarakat di kantor Desa Jombatan pada Rabu (31/08/2022) kemarin. Para siswa MAN 1 Jombang ini juga akan membuat forum diskusi ke warga mulai tingkat RT untuk edukasi dampak buruk mitos suleten. Mereka juga akan menggelar diskusi dengan instansi terkait terkait persoalan tersebut.
Baca Juga : Aksi Bakar Poster, Demo Mahasiswa Tolak Kenaikan BBM di Jombang Dibubarkan Polisi
"Dari hasil penelitian terungkap 70 persen warga membuang popok bayi ke sungai karena dampak mitos suleten. Dari situ kita berusaha mematahkan mitos tersebut dengan melakukan sosialisasi ke warga agar tidak lagi mempercayai mitos tersebut. Sehingga popok bayi tidak lagi dibuang ke sungai," kata Iyyaka.
Kepala MAN 1 Jombang Erma Rahmawati mengatakan, penelitian yang dilakukan kedua siswinya tersebut dituangkan dalam karya tulis ilmiah dengan judul 'Pendekatan Sosial Ekologi Sebagai Upaya Penyadaran Perilaku Pembuangan Diapers ke Sungai Bagi Masyarakat Brantas'.
Karya siswi MAN 1 Jombang tersebut telah masuk dalam 20 besar Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
"Ide dari kader care MAN 1 Jombang untuk mematahkan mitos suleten itu berkembang jadi proposal dan karya tulis ilmiah. Dan alhamdulillah diterima oleh BRIN dan menjadi salah satu finalis di tingkat nasional," ungkapnya.
Dikatakan Erma, penelitian tersebut tidak lain untuk mematahkan mitos suleten di tengah masyarakat. Sehingga masyarakat tidak lagi membuang popok bayi ke sungai.
"Tujuan penelitian ini adalah memberikan kesadaran ke masyarakat yang mempunyai bayi dan menggunakan diapers. Itu agar nanti mereka tidak membuang sampahnya ke sungai," pungkasnya.(*)
