Kisah Haru Anak Asal Purwosari, 17 Tahun Alami Kelainan Kelamin Ganda | Jombang TIMES

Kisah Haru Anak Asal Purwosari, 17 Tahun Alami Kelainan Kelamin Ganda

Sep 13, 2021 20:57
MA dan sang Ibu kala bercerita kisah haru karena mengalami kelainan pada organ kelaminnya (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
MA dan sang Ibu kala bercerita kisah haru karena mengalami kelainan pada organ kelaminnya (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

JATIMTIMES - Seorang gadis berkerudung hitam didampingi dengan ibunya, sore ini melangkahkan kakinya ke kantor Jatim Times Network. Mimik wajah keduanya belum nampak jelas karena masker yang dipakainya. Namun, dari gestur tubuh maupun sorot matanya, mereka menunjukkan harapan besar yang selama ini belum terwujud bisa terlaksana.

Memasuki kantor, mereka disambut hangat segenap tim Jatim Times Network. Diawal tak ada yang aneh dengan gadis berkerudung hitam dan ibunya tersebut. Sembari menaiki tangga untuk menuju lantai 2, gadis dan ibunya itu juga nampak terlihat membawa beberapa berkas yang dari cover luarnya tertera RSUD Saiful Anwar. 

Baca Juga : Prospek UMKM Kota Kediri Besar, Wali Kota Kediri Optimistis Produknya Bisa Tembus Pasar Ekspor

Dari situlah, mulai terbersit pertanyaan di benak penulis, siapa gadis dan ibu tersebut, dan apa yang dialaminya. Duduk di sebuah kursi didampingi sang ibu yang diketahui berinisial M (37) warga Kecamatan Purwosari, Pasuruan, cerita haru pun mulai mengalir terkait sosok putrinya yang selama 17 tahun harus menderita lantaran mengalami kelainan. 

Putrinya yang berinisial MA (17) mengalami sebuah kelainan, yakni pada organ kelamin yang diketahui sejak lahir. Putri yang kini berusia 17 tahun tersebut mengalami kelamin ganda, yaitu kelamin pria dan juga kelamin wanita. 

Pada umur satu tahun, awal MA menjalani operasi, tutur M, ia dioperasi untuk menghilangkan sebuah benjolan yang diduga menurutnya merupakan atau mirip testis dari pria. Operasi tersebut belum tuntas, sebab masih terdapat sebuah benjolan yang mirip dengan kelamin pria dan di bawahnya baru merupakan organ wanita, akan tetapi tidak memiliki saluran (lubang) ke rahim. 

"Operasinya masih umur satu tahunan. Saat itu sekitar tahun 2005," jelas M. 

Karena saat itu belum mencukupi umur, tim dokter kemudian mengatakan untuk operasi kembali dengan tiga tahapan operasi, merampingkan pinggul, merekonstruksi alat kelamin dan membuat saluran rahim dilakukan pada saat nantinya telah dewasa atau setelah diketahui status kelaminnya.

Berjalannya waktu, sang anak mulai tumbuh dewasa. Usai MA mengalami menstruasi, dan melalui pemeriksaan di rumah sakit, hasilnya hormon sang putri memang merupakan seorang perempuan.  Kemudian, dari hasil tersebut ia terus berkonsultasi ke rumah sakit untuk sang anak bisa segera dilakukan penanganan. 

"Tapi pas di sana yang berkonsultasi, dokternya ganti-ganti yang menangani. Yang dulu menangani juga ada yang sudah meninggal," tuturnya sembari sedikit menyeka air mata.

Pihaknya kemudian menyampaikan kepada tim dokter untuk segera dilakukan operasi dengan pasien umum. Tetapi kala itu dokter kemudian menyarankan untuk memakai BPJS lantaran biaya operasi begitu besar. 

"Ya mau nggak mau harus bolak-balik rumah sakit sama anak saya untuk kontrol. Bapaknya kan sudah meninggal, jadi ya berdua perginya. Setiap periksa ya harus butuh biaya, Apalagi saya juga pernah ketipu sama orang yang katanya mau bantu," jelasnya.

Namun pihaknya menyayangkan hingga kini belum terdapat kejelasan penanganan dari rumah sakit. Sebab, jika tak segera ditangani, pihaknya khawatir dengan kondisi psikis sang anak. Selain itu, kendala biaya tentunya juga menjadi sebuah permasalahan sendiri.

Baca Juga : Polresta Blitar Kota Amankan 11 Tersangka Narkoba, 3 Terlibat Sabu

"Belum ada kejelasan lagi, kapan ini bisanya. Dulu katanya biayanya  tiga tahap perkiraan Rp 150 juta. Dulu sama dokternya disaranin suruh pakai BPJS, supaya biaya yang ada biasa buat keperluan lain. Tapi belum tahu gimana sekarang kelanjutannya," jelasnya.

Sementara itu, MA mengatakan, jika dirinya tak memungkiri kerap kali merasa stres dengan kelainan yang dialami. Bahkan ia mengakui pernah mengalami stres hingga mengalami sakit. Dalam benaknya, kerap terpikir apa yang ia alami segera bisa terselesaikan. Kehidupan normal, seperti halnya anak-anak lain menjadi impiannya. 

"Dulu waktu SD saya pernah dibully. Ada teman saya yang mengatakan saya nggak punya pusar. Di situ saya diam, mau nangis malu. Di situ saya juga sempat stres. Saya nggak masuk juga nggak mau ketemu anak yang bully saya. Tapi dia belum tahu apa yang saya alami (kelamin ganda)," tuturnya.

Dengan kelainan pada organ kelamin, MA mau tak mau harus mematuhi apa yang disarankan oleh tim dokter. Ia tak berani untuk meminum air melebihi tiga liter. Sebab, ketika mengkonsumsi air berlebihan, intensitas kencing begitu cepat dan tak kuat untuk menahan kencing terlalu lama.

"Yang disarankan 3 liter, tapi minumnya nggak ada tiga liter," bebernya.

Begitupun saat menstruasi, memang keluar darah selayaknya wanita normal. Akan tetapi, menstruasi tersebut terkadang keluar dari dua saluran kelamin. Dirinya berharap, nantinya dapat segera dilakukan operasi sehingga kehidupannya kembali normal dan seperti layaknya anak-anak perempuan lainnya. 

"Pengen cepat di operasi, ingin normal seperti orang-orang. Ingin punya masa depan. Tapi kadang kepikiran, kok gak ditangani, tapi sama ibu tetap suruh semangat," pungkasnya.

Topik
kelamin ganda kisah anak berkelamin ganda

Berita Lainnya