Rumah Sakit Pelengkap Medical Center Jombang (Foto: Adi Rosul/ JombangTIMES)
Rumah Sakit Pelengkap Medical Center Jombang (Foto: Adi Rosul/ JombangTIMES)

Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang mulai menelusuri kasus kematian bayi pada proses persalinan di Rumah Sakit Pelengkap Medical Center (RS PMC). Untuk mengungkap faktanya, Dinkes Jombang akan segera melakukan audit maternal perinatal (AMP).

DR (27), warga Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito, Jombang melahirkan anak keduanya di RS PMC pada Selasa (4/8). Ia melahirkan bayinya tanpa bantuan tenaga medis rumah sakit swasta tersebut. Malangnya, bayi yang baru dilahirkan pasien tersebut dinyatakan meninggal dunia, setelah dilakukan upaya Resusitasi Jantung Paruh (RJP) terhadap bayi pasien.

Baca Juga : Mobil Terperosok ke Jurang, Nyawa Kakek 65 Tahun Tak Tertolong

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dr M Vidya Buana mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan kasus yang dialami oleh pasien ibu hamil di RS PMC. Namun, laporan rekam medis perinatal (RMP) itu tidak diterima dari pihak rumah sakit. Melainkan diterima dari bidan yang ditugaskan oleh Dinkes Jombang untuk melakukan pelacakan.

Laporan RPM yang diterima Dinkes menyebut, pasien datang ke rumah sakit langsung dilakukan pemeriksaan kehamilan. Kemudian diketahui, pasien sudah mengalami pembukaan satu pada fase persalinan. Setelahnya, dilakukan rapid test dan hasilnya reaktif. Dari situ pasien langsung dipindah ke ruang isolasi.

"Versi temen-temen bidan pelacakan, dari rumah sakit belum masuk ke kita. Sekitar jam 2 (dini hari, red), diketahui sudah pembukaan dua. Secara teori pembukaan dua ke pembukaan lengkap, cukup jauh. Ternyata jam berapa itu, sudah kebrojolan (melahirkan, red)," terangnya saat ditemui wartawan di kantor Dinkes Jombang, Jalan KH Wahid Hasyim, Jombang, Jumat (7/8).

Hari ini pihak Dinas Kesehatan Jombang akan mendatangi RS PMC untuk meminta keterangan. Tim pelacakan Dinkes Jombang akan memintai kronologi atas kasus meninggalnya bayi yang dilahirkan oleh DR.

Hasil pelacakan itu, kata Vidya, akan dijadikan materi dalam proses audit maternal perinatal (AMP). AMP ini dibahas oleh tim yang beranggotakan dokter spesialis organ, dokter spesialis anak dan dari organisasi profesi.

"Kalau RMP nya sudah masuk ke kami, baru kita adakan audit itu tadi. AMP tingkat kabupaten ini akan membahas semuanya. Hasil pembahasan AMP itu nanti muncul yang namanya rekomendasi," tandasnya.

Pelacakan yang dilakukan oleh Dinkes Jombang ini, belum bisa memperkirakan penyebab meninggalnya bayi. Begitu pula dengan kasus dugaan penelantaran yang dialami oleh ibu bayi selama dirawat di RS PMC.

 

Untuk mengetahui fakta yang terjadi, Vidya tetap menunggu hasil audit yang dilakukan oleh Tim AMP tingkat kabupaten tersebut. "Kita tidak boleh buru-buru dengan kasus seperti ini. Kasus kematian itu harus dicermati dengan baik. Apakah sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) atau tidak sesuai," ujarnya.

 

Baca Juga : Warga Ngoro Jombang Ditemukan Tewas di Anak Sungai Brantas

"Nanti pihak AMP akan memaparkan semua. Mulai dari hulu, mulai dari bagaimana dia ANC-nya (Antenatal Care) atau pemeriksaan kehamilannya, hingga dirujuk ke rumah sakit sampai kondisinya di rumah sakit seperti apa, itu nanti dipaparkan semua. Keputusan semua nanti di tim AMP, rekomendasi juga dari tim," sambungnya.

Diberitakan sebelumnya, DR (27), warga Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito, Jombang, memilih RS Pelengkap Medical Center (RS PMC) Jombang untuk persalinan anak ke duanya. Ia merasa ditelantarkan pihak rumah sakit karena tidak ada penanganan tim medis saat proses persalinan.

Istri BK (29) itu, masuk ke rumah sakit pada Selasa (4/8) pukul 01.30 WIB. Pada pukul 04.30 WIB, DR melahirkan anak ke duanya tanpa dibantu bidan atau dokter jaga saat itu. Hingga akhirnya, bayi yang baru dilahirkannya itu meninggal dunia.

 

Petugas medis baru datang setelah 30 menit bayi lahir. Saat itu, hanya ada orang tua pasien yang mendampingi di dalam ruangan perawatan. Hal tersebut membuat kecewa pasien dan keluarga.

"Yang saya kecewakan itu waktu di ruang Darusallam, ketika saya kesakitan perawat terus bilang nanti jam 9 (ditangani, red). Hingga akhirnya keluar bayinya itu pun tidak langsung dilihat, baru setengah jam setelah bayi lahir baru dilihat. Kalau menurut saya, waktu bayi lahir itu tidak nangis, kalau itu langsung ditangani, langsung dikasih oksigen, dikasih penghangat ya ndak sampai kayak gitu (meninggal, red)," kata DR saat ditemui di kediamannya.(*)