Ilustrasi skincare. (Foto: cosmopolitanturkiye.com)
Ilustrasi skincare. (Foto: cosmopolitanturkiye.com)

Bagi para pencinta skincare tentu tak asing dengan produk luar negeri The Ordinary. Produk dari Kanada ini juga sudah banyak di-review oleh para beauty vlogger. 

Satu varian yang paling terkenal dari The Ordinary adalah The Ordinary AHA 30% + BHA 2% Peeling Solution. Produk ini hampir ada di semua e-commerce, mulai dari Shopee, Tokopedia, e-commerce luar negeri, dan lain-lain.

Baca Juga : Bunda, Ini Bahaya Ibu Hamil Stres dan Tidak Bahagia untuk Anak

Ternyata, sangat penting untuk diketahui kalian bahwa The Ordinary AHA 30% + BHA 2% adalah produk ilegal distribusi dan penggunaannya mempunyai risiko yang besar untuk kulit. Hal ini dibeberkan oleh ahli kecantikan, dr Richard Lee MARS di akun Youtube miliknya. Richard sendiri kerap mengedukasi dan me-review skincare berbahaya untuk masyarakat awam. 

"The Ordinary dari AHA 30% dan BHA 2% sangat tidak saya rekomendasi karena sebenarnya produk ini ilegal distribusi," ucapnya.

Nah, dengan AHA setinggi itu, efek samping dari penggunaannya bisa menyebabkan wajah terbakar, infeksi, kemerahan dan iritasi. Bagi kalian yang punya kulit sensitif, terutama di sudut bibir, sudut hidung, dan bawah mata bisa berkerak dan menghitam. 

Satu lagi yang juga paling ditakutkan dari penggunaan AHA yang tinggi adalah hiperpigmentasi pascainflamasi (HPI). Bukannya menghilangkan flek, malah justru memunculkan flek yang besar.

Sederhananya, AHA sendiri adalah cairan peeling. Menurut peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 23 tahun 2019, AHA boleh dipakai di kosmetik, tapi kandungannya di bawah 10%. 

Jadi, selama di bawah 10%, ini boleh ditaruh di kosmetik dan boleh diperjualbelikan. Lantas bagaimana jika di atas 10%? Ternyata, dari aturannya, AHA di atas 10% harus diaplikasikan oleh dokter langsung, tidak boleh dijual langsung ke pasien. Jika, AHA 30% wajib dikerjakan oleh dokter spesialis kulit. Penggunaannya pun cuma boleh dipakai di klinik.

"Sedangkan dari The Ordinary AHA 30% dan BHA 2% ini sudah jelas terlampir AHA-nya 30%. Artinya The Ordinary AHA 30% BHA 2% ini tidak boleh langsung dijual ke pasien. Hanya boleh diaplikasikan oleh dokter," tegasnya.

Sama halnya dengan aturan di Indonesia, aturan soal AHA di luar negeri pun tak jauh beda. Meski Food and Drug Administration (FDA) approved, hanya AHA di bawah 10% yang boleh diperjualbelikan dan boleh ada di kosmetik sehingga boleh ada di pasaran tanpa diresepkan sedikitpun. Sementara bila di atas 10% wajib dikerjakan oleh dokter.

"Dari sini saja sebenarnya kita bisa tahu bahwa produk ini sebenarnya ilegal distribusi, bukan produknya jelek," imbuhnya.

Baca Juga : Angka Kesembuhan Tinggi, Obat Herbal China Ini Diklaim Ampuh Tangani Covid-19 di Jatim

Di BPOM sendiri sudah ada 13 produk The Ordinary. Hanya saja, tidak ada satupun produk dengan AHA 30% + BHA 2%.

"Kalau misalkan ada justru aneh karena di luar aturan BPOM," ucapnya.

Meski tidak memiliki legalitas, produk tersebut bukanlah termasuk produk abal-abal (yang mengandung zat berbahaya). dr Richard menjelaskan, produk ini bagus, tapi ilegal dan tidak boleh dikerjakan langsung.

"Sekali lagi, itu harus dikerjakan oleh dokter atau paling nggak di bawah pengawasan dokter," tegasnya.

Dia menambahkan, The Ordinary AHA 30% BHA 2% tidak ia rekomendasi, apa lagi untuk orang Indonesia. Sebab, belum tentu produk luar negeri cocok dengan kulit Indonesia yang lebih tipis.

"Dengan kulit yang lebih tipis kalau kalian pakai AHA 30% sembarangan pakai maka efek sampingnya besar banget dan ini risikonya tinggi banget untuk kalian," tandasnya.