Bakso mungkin sudah akrab dengan lidah siapa pun orang Indonesia. Di mana pun di Indonesia, akan mudah kita jumpai bakso. Salah satunya di Kota Trenggalek. Dari zaman ke zaman, penyajian bakso mengalami beberapa perubahan. Di antaranya bakso mercon yang di dalam pentolnya diisi cabe cintang.
Ada lagi bakso klenger dengan porsi yang jumbo dan bakso beranak ukuran besar sebagai induk dan dikelilingi bakso kecil. Namun, walaupun kuliner bakso sudah berkembang, Mbah Bari (67), penjual bakso yang berjualan tak jauh dari tempat tinggalnya di depan Masjid Agung Pertigaan Dusun Nglongsor, Kecamatan Tugu, Trenggalek, masih menjajakan bakso.
Dia tidak mengubah cara penyajian serta menjaga kualitas cita rasa. Saat kru Trenggalektimes berkunjung, rasa bakso Mbah Bari sangat enak. Selain itu, Mbah Bari menuturkan bahwa dirinya berjualan sejak harga bakso masih Rp 25 sampai sekarang sudah menjadi Rp 7.000-an. "Dulu jualan keliling pake rombong pikul dan gerobak yang didorong.
Tapi sekarang jualanya menetap di sini Mas. Buka pukul 11:00 biasanya sampai pikul 16:00," kata Mbah Bari. "Baksonya legend banget Mas. Dari saya masih kecil sampai saya berumah tangga, Mbah Bari tetap setia menjajakan baksonya tanpa mengubah cara penyajian dan cita rasa," tutur Redhian (31), pelanggan bakso Mbah Bari.
Saat ditanya keinginan buka cabang, Mbah Bari tersenyum. "Jualan di sini aja Mas. Nanti kalo anak atau sodara yang ada punya keinginan jualan bakso, saya siap memberikan resep kepada mereka," ungkap dia. Buat pembaca TrenggalekTIMES yang sangat suka dengan kuliner bakso, silakan mampir di warung bakso Mbah Bari. (*)
