Benarkah Mayit Dapat Mendengar dan Menjawab Salam Peziarah?
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
25 - Jun - 2026, 10:57
JATIMTIMES - Pertanyaan mengenai apakah orang yang telah meninggal dapat mendengar salam dari para peziarah kerap menjadi pembahasan di kalangan umat Islam. Sebagian orang mempertanyakan alasan Rasulullah SAW menganjurkan umatnya mengucapkan salam saat memasuki area pemakaman jika penghuni kubur tidak mampu mendengar atau mengetahui kedatangan mereka.
Dalam kajian Islam, persoalan alam kubur termasuk perkara gaib yang tidak dapat diketahui melalui akal semata. Penjelasannya hanya dapat dirujuk kepada Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga : Empat Santri Lulus Hafalan Juz Amma, Jadi Simbol Kebangkitan Madrasah Mathla’ul Ihsan Situbondo
Dewan Pembina Konsultasi Syariah, Ustadz Ammi Nur Baits, menjelaskan bahwa syariat ziarah kubur memiliki beberapa tujuan, di antaranya untuk mengingatkan manusia kepada kematian, mendoakan orang yang telah wafat, serta menyampaikan salam kepada penghuni kubur.
"Ketika kita diperintahkan untuk ziarah kubur, agar lebih mudah mengingat kematian, memberi salam dan mendoakan si mayit," jelas Ustadz Ammi Nur Baits.
Dalil mengenai anjuran tersebut terdapat dalam hadis riwayat Muslim. Diceritakan bahwa Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang bacaan yang sebaiknya diucapkan saat berziarah ke makam. Nabi kemudian mengajarkan doa yang diawali dengan ucapan salam kepada penghuni kubur dari kalangan mukmin dan muslim.
Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW secara langsung mengajarkan umatnya untuk menyampaikan salam kepada penghuni makam. Meski demikian, hadis itu tidak secara eksplisit menerangkan apakah salam tersebut didengar atau tidak oleh orang yang telah meninggal.
Pembahasan mengenai kemampuan mayit mendengar salam peziarah kemudian diperkuat oleh riwayat lain yang berasal dari Ibnu Abbas RA. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa seseorang yang melewati kuburan saudaranya sesama mukmin yang dahulu dikenalnya di dunia, lalu mengucapkan salam, maka penghuni kubur itu akan mengenali orang tersebut dan membalas salamnya.
Riwayat tersebut dinilai sahih oleh sejumlah ulama. Di antaranya adalah Ibnul Mubarok, Abdul Haq Al-Isybili, Al-Qurthubi, Al-Iraqi, hingga Imam Asy-Syaukani. Penilaian serupa juga disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kumpulan fatwanya.
Selain hadis tersebut, sejumlah ulama besar juga memberikan penjelasan mengenai hubungan antara penghuni kubur dan orang yang datang berziarah. Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ar-Ruh menyebutkan bahwa para ulama salaf telah bersepakat mengenai kemampuan mayit mengetahui kedatangan orang yang masih hidup yang menziarahinya. Menurutnya, penghuni kubur dapat mengenali para peziarah dan merasa senang dengan kedatangan mereka.
Pandangan senada disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir. Dalam tafsirnya, ia menjelaskan bahwa tata cara salam yang diajarkan Rasulullah SAW kepada penghuni kubur menunjukkan bahwa salam tersebut ditujukan kepada pihak yang dapat memahami sapaan tersebut.
Baca Juga : Tepis Isu Miring Ribuan Kursi SMPN Hilang di SPMB, Dikbud Sidoarjo Beri Klarifikasi
"Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mensyariatkan kepada umatnya ketika mereka memberi salam kepada penghuni kubur, agar disampaikan seperti menyampaikan kepada orang yang ada di depannya," tulis Ibnu Katsir dalam penjelasannya.
Ia menambahkan, para ulama salaf meriwayatkan bahwa mayit mengetahui siapa saja yang datang menziarahinya dan merasa gembira dengan kehadiran mereka.
Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa pemahaman mengenai kemampuan mayit mendengar atau mengetahui kedatangan peziarah tidak boleh dijadikan alasan untuk meminta pertolongan kepada penghuni kubur. Orang yang telah meninggal dunia tidak lagi dapat melakukan amal dan tidak memiliki kemampuan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Sebaliknya, merekalah yang membutuhkan doa, ampunan, dan rahmat Allah SWT dari orang-orang yang masih hidup. Karena itu, tujuan utama ziarah kubur adalah mendoakan mereka, bukan meminta bantuan atau menyampaikan permohonan terkait urusan dunia.
Allah SWT juga memberikan peringatan dalam Surah An-Nahl ayat 20-21 mengenai kesia-siaan meminta pertolongan kepada selain-Nya. Ayat tersebut menjelaskan bahwa sesembahan selain Allah tidak mampu menciptakan apa pun, tidak hidup, dan tidak mengetahui kapan manusia akan dibangkitkan.
