Khutbah Jumat 29 Mei 2026: Meneladani Kasih Sayang Rasulullah dan Menjaga Cinta Negeri
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Dede Nana
29 - May - 2026, 06:59
JATIMTIMES - Bulan Dzulhijjah bukan hanya identik dengan ibadah kurban dan pelaksanaan haji. Lebih dari itu, bulan mulia ini juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali meneladani ajaran Rasulullah SAW tentang kemanusiaan, persaudaraan, dan kecintaan terhadap tanah air. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai dan penuh kepedulian.
Naskah khutbah Jumat kali ini mengangkat tema tentang spirit kemanusiaan Rasulullah SAW serta pentingnya merawat rasa cinta kepada negeri sebagai bagian dari wujud syukur dan tanggung jawab bersama. Di tengah berbagai tantangan sosial yang terjadi saat ini, ajaran Nabi Muhammad SAW tentang kasih sayang, persatuan, dan kepedulian kepada sesama menjadi pengingat yang relevan bagi umat Islam.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Jumat Legi 29 Mei 2026: Hari Baik untuk Bekerja
Melalui khutbah ini, jemaah diajak memahami bahwa mencintai tanah air bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Justru, menjaga persatuan, ketenteraman, dan kemaslahatan bangsa merupakan bagian dari nilai-nilai luhur yang diajarkan Islam sejak masa Rasulullah SAW. Semoga khutbah ini dapat menjadi bahan renungan sekaligus motivasi untuk memperkuat ukhuwah dan kepedulian sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.
Khutbah I
الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ
اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah,
Pada kesempatan yang penuh kemuliaan ini, marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan sungguh-sungguh menjalankan segala perintah-Nya serta berupaya sekuat tenaga menjauhi seluruh larangan-Nya. Dengan bekal ketakwaan itulah semoga kelak kita termasuk golongan hamba yang mendapatkan kebahagiaan surga-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Kemuliaan bulan Dzulhijjah sebagaimana diterangkan oleh Al-‘Allamah Syaikh Abdul Hamid dalam kitab Kanzun Najah was Surur, salah satunya karena di dalam bulan ini terdapat ibadah haji yang menjadi rukun Islam. Bulan Dzulhijjah juga dikenal sebagai bulan yang penuh keberkahan dan waktu dikabulkannya doa-doa.
Karena itu, Allah swt mengabadikan kemuliaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:
وَالْفَجْرِ. وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Artinya: “Demi fajar. Dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)
Para ulama memiliki penafsiran berbeda mengenai makna “malam yang sepuluh” dalam ayat tersebut. Sebagian mengatakan yang dimaksud adalah sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Ada pula yang berpendapat sepuluh hari pertama bulan Muharram, termasuk hari Asyura. Namun Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah.
Pendapat ini juga ditegaskan oleh Syaikh Muhammad bin Nashiruddin Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Beliau menjelaskan bahwa lafaz walayālin ‘asyr menggunakan bentuk nakirah karena malam-malam tersebut merupakan malam paling utama sepanjang tahun. Oleh sebab itu, penafsiran bahwa yang dimaksud ialah sepuluh malam Dzulhijjah merupakan pendapat yang shahih dan masyhur.
Para ulama juga menerangkan bahwa yang dimaksud dengan fajar pada ayat tersebut ialah fajar hari Arafah, sedangkan malam yang sepuluh adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah.
Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah,
Salah satu pelajaran yang dapat kita ambil dari momentum Idul Adha ialah khutbah Rasulullah ﷺ ketika menyampaikan nasihat kepada para sahabat pada hari Nahr atau Idul Kurban. Dalam kitab Khutubatun Nabi Rasulillah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
عن ابن عباس رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم خطب الناس يوم النحر فقال : يا ايها الناس اي يوم هذا؟ قالوا يوم حرام قال فاي بلد هذا؟ قالوا بلد حرام قال فاي شهر هذا قالوا شهر حرام. قال فان دماءكم واموالكم واعراضكم عليكم حرام كحرمة يومكم هذا في بلدكم هذا وفي شهركم هذا
Artinya: “Hadits dari Ibnu Abbas RA, sesungguhnya Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada umatnya pada hari Idul Kurban. Nabi bersabda: ‘Wahai manusia, hari apakah ini?’ Mereka menjawab: ‘Hari yang mulia.’ Nabi bertanya lagi: ‘Negeri apakah ini?’ Mereka menjawab: ‘Negeri yang mulia.’ Nabi kembali bertanya: ‘Bulan apakah ini?’ Mereka menjawab: ‘Bulan yang mulia.’ Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram dilanggar sebagaimana mulianya hari ini, di negeri ini, dan pada bulan ini.’” (HR Imam Bukhari)
Kalimat-kalimat Rasulullah ﷺ tersebut diulang berkali-kali sebagai penegasan sekaligus wasiat bagi umatnya. Bahkan Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa setelah itu tidak boleh lagi terjadi pertumpahan darah dan permusuhan.
Dari hadits tersebut, sebagai umat Islam yang hidup di negeri Indonesia yang merdeka ini, setidaknya ada tiga pesan penting yang dapat kita renungkan bersama.
Pertama, seorang pemimpin umat harus senantiasa menjalin komunikasi dan membimbing umatnya menuju kebaikan. Salah satu caranya ialah dengan mengingatkan pentingnya memuliakan hari-hari dan bulan-bulan yang dimuliakan Allah. Bentuk penghormatan terhadap bulan haram itu di antaranya dengan memperbanyak puasa sunnah, mendekatkan diri kepada Allah, serta memperkuat kepedulian sosial secara istiqamah. Di bulan haram pula umat Islam dilarang melakukan peperangan, permusuhan, maupun menyebarkan fitnah.
Kedua, di balik kemuliaan agama terdapat kecintaan terhadap tempat tinggal dan tanah air yang menjadi tempat beribadah. Rasulullah ﷺ menggunakan kata balad dalam khutbahnya. Dalam Kamus Al-Munawwir karya KH Ahmad Warson Munawwir yang telah dikoreksi KH Ali Ma’shum dan KH Zainal Abidin Munawwir, kata balad memiliki arti daerah, negeri, desa, kampung, hingga tanah air.
Ketika Rasulullah ﷺ menyebut kata balad dalam khutbah Idul Adha, kita dapat mengambil pelajaran betapa besar kecintaan beliau terhadap tanah kelahirannya. Hal itu sebagaimana firman Allah swt:
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya: “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Makkah). Katakanlah: ‘Tuhanku lebih mengetahui siapa yang membawa petunjuk dan siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.’” (QS. Al-Qashash: 85)
Ketiga, Islam adalah agama yang menebarkan perdamaian, bukan agama yang mengajarkan kekerasan. Peristiwa perintah kurban kepada Nabi Ibrahim as menjadi bukti nyata bagaimana Islam sangat menghargai kemanusiaan dan menjunjung tinggi nilai kasih sayang.
Allah swt mengabadikan kisah tersebut dalam Al-Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 102:
Baca Juga : Bocah 4 Tahun Diduga Dicabuli Kakek di Situbondo
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Ketika anak itu sampai pada usia sanggup bekerja bersamanya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Ismail menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
Syaikh Utsman bin Hasan Al-Khaubawi dalam kitab Durratun Nashihin menjelaskan bahwa perjalanan Nabi Ibrahim dari negeri Syam menuju Makkah dalam melaksanakan perintah Allah kemudian diabadikan dalam ibadah sunnah puasa Tarwiyah dan puasa Arafah.
Tarwiyah berasal dari kata yata rawwa yang berarti merenungkan mimpi menyembelih putranya, sedangkan Arafah berasal dari kata ‘arafa yang berarti mengetahui dan meyakini bahwa mimpi itu benar-benar datang dari Allah swt. Arafah juga menjadi puncak pelaksanaan ibadah haji, sementara hari kesepuluh Dzulhijjah menjadi hari penyembelihan kurban (nahr).
Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah,
Sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan putranya, Nabi Ibrahim as kemudian mengganti kurban tersebut dengan menyembelih 1.000 kambing, 300 sapi, dan 100 unta demi menjalankan perintah Allah swt.
Dari sini kita memahami bahwa ibadah kurban bukan hanya bernilai spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang besar. Kurban mampu mengangkat kesejahteraan para peternak dan menjadi bentuk kepedulian terhadap kaum dhuafa yang menerima manfaat dari pembagian daging kurban.
Di penghujung khutbah ini, perlu kembali ditegaskan pentingnya memuliakan agama dengan menjalankan seluruh perintah Allah swt. Bagi umat Islam yang diberikan keluasan rezeki, diwajibkan menunaikan ibadah haji ke Baitullah dan disunnahkan melaksanakan kurban.
Allah swt berfirman:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar: 1-3)
Hal penting lainnya ialah bagaimana kita memanusiakan bangsa dengan mencintai tanah air atau hubbul wathan. Kita mengetahui bahwa Makkah merupakan kota yang sangat dicintai Rasulullah ﷺ sebagai pusat sejarah peradaban Islam. Bahkan di sekitar Ka’bah terdapat makam Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Syu’aib, Nabi Shalih, dan puluhan nabi lainnya sebagaimana disebutkan dalam kitab Manasik Haji karya Syaikh Shalih bin Umar As-Samarani.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ mencintai Makkah dan Madinah, maka kita sebagai bangsa Indonesia pun wajib mencintai negeri ini dengan menjaga kedamaian dan menjadikannya negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Rasulullah ﷺ telah menyempurnakan syariat Islam dengan keteladanan cinta tanah air. Bahkan ketika usia 30 tahun, beliau berhasil mempersatukan masyarakat Makkah melalui peletakan Hajar Aswad di sisi Ka’bah.
Ma’asyiral muslimin hafidhakumullah,
Demikian khutbah singkat ini kami sampaikan. Semoga semangat Idul Adha semakin meneguhkan keyakinan kita bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang menebarkan kasih sayang dan kedamaian.
Mari kita isi kehidupan di negeri Indonesia ini dengan memegang teguh ajaran Islam, memperkuat cinta tanah air, dan terus menyempurnakan keimanan kita kepada Allah swt. Amin Ya Rabbal Alamin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
