Dugaan Pelecehan Seksual Kiai dan Gus di Ponpes Lamongan: Korban Terkonfirmasi 11 Santri
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Dede Nana
09 - Mar - 2026, 10:05
JATIMTIMES - Jagat media sosial dihebohkan dengan dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan seorang kiai dan beberapa gus di pondok pesantren Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Cerita dugaan kasus ini pertama kali mencuat melalui unggahan akun Instagram @lulisman_ yang kemudian ramai diperbincangkan warganet.
Dalam unggahannya, akun tersebut menceritakan pengalaman seorang santriwati bernama samaran Lidya yang disebut pernah mondok di Pondok Pesantren Al-Walid (nama samaran) sekitar enam tahun lalu.
Baca Juga : Satpol PP Lamongan Bakal Tindak Perumahan Zam-Zam yang Belum Penuhi Izin PBG
Disebutkan, setelah lulus SMA, Lidya memutuskan melanjutkan pendidikan dengan mondok di pesantren tersebut. Namun, sekitar satu tahun tinggal di pondok, ia beberapa kali meminta kepada orang tuanya agar dipindahkan.
“Setelah sekitar satu tahun mondok, Lidya beberapa kali meminta kepada orang tuanya agar diboyongkan atau keluar dari Pesantren Al-Walid. Ketika ditanya alasannya, Lidya tidak pernah menjawab dengan tegas, ia hanya mengatakan ‘pokoknya keluarkan saja, saya sudah tidak betah di sana’,” tulis akun tersebut.
Awalnya keluarga mengira Lidya hanya merasa tidak betah di lingkungan pondok. Hingga suatu hari, ia tiba-tiba menghubungi kakaknya menggunakan telepon pondok sambil menangis dan meminta segera dijemput.
“Pada suatu hari, Lidya tiba-tiba menelpon kakaknya menggunakan hp pondok sambil menangis ketakutan minta segera dijemput,” tulisnya.
Merasa ada yang tidak beres, kakak Lidya langsung menjemputnya di pondok dan membawanya pulang. Setelah berada di rumah, Lidya akhirnya menceritakan apa yang dialaminya.
Menurut pengakuan yang dituliskan akun tersebut, Lidya mengaku pernah dipanggil oleh seorang gus berinisial Gus J. Saat itu ia disebut ditawari untuk melakukan nikah mut’ah atau kawin kontrak.
“Lidya kemudian mengaku bahwa dia saat itu sedang berdua bersama Gus J, kemudian ditawari oleh Gus J untuk melaksanakan nikah mut'ah (kawin kontrak),” tulis akun tersebut.
Lidya disebut sempat terpaku mendengar tawaran tersebut sebelum akhirnya keluar dari ruangan dan mengambil telepon pondok untuk meminta dijemput keluarganya. Cerita yang diunggah itu juga menyebut bahwa peristiwa tersebut bukan pertama kali terjadi. Lidya mengaku beberapa kali dipanggil oleh Gus J dengan berbagai alasan.
Awalnya ia hanya diminta membuat minuman. Namun dalam kesempatan lain, ia diminta memijat hingga disebut terjadi tindakan yang mengarah pada pelecehan seksual.
“Lama-lama Gus J semakin berani mendekati Lidya dan mulai menyentuh tubuh Lidya sampai memegang bagian-bagian sensitif,” tulis akun tersebut.
Bahkan dalam unggahan itu disebutkan bahwa korban juga pernah diminta melakukan tindakan tidak senonoh terhadap pelaku.
Cerita tersebut awalnya sempat diragukan oleh pengunggah karena sosok Gus J disebut merupakan orang yang dihormati di daerahnya. Namun lulisman_ kemudian mencoba melakukan penelusuran mandiri.
Baca Juga : Lele Para Juara Kontes Dilelang, Puluhan Juta Terkumpul untuk Santuan Anak Yatim
Dalam proses penelusuran tersebut, lulisman_ menghubungi santriwati lain yang disebut mengalami kejadian serupa. Salah satunya adalah santriwati dengan nama samaran Anggun.
Setelah melakukan pendekatan selama beberapa minggu, Anggun akhirnya mengaku pernah mengalami pelecehan serupa. Namun pengakuan Anggun justru membuat mereka semakin terkejut. Sebab, ia menyebut pelaku bukan hanya satu orang.
“Anggun malah bilang kalau bukan cuma Gus J yang melecehkannya, masih ada pelaku lain,” tulis akun tersebut.
Ketika ditanya siapa pelaku lain yang dimaksud, Anggun menyebut nama Kyai Jamal (nama samaran), yang disebut sebagai pengasuh pesantren tersebut. “Kyai Jamal,” ujar Anggun dalam cerita tersebut sambil menangis.
Mendengar hal itu, rencana untuk melaporkan kasus tersebut kepada pihak pengasuh pondok akhirnya dibatalkan karena nama yang disebut justru merupakan pimpinan pesantren.
Akun tersebut mengatakan bahwa pihaknya kemudian fokus membantu mengeluarkan santriwati yang diduga menjadi korban dari pesantren. Berdasarkan investigasi yang mereka lakukan hingga 25 Februari 2026, disebutkan data sementara sebagai berikut:
• Terduga pelaku: 1 kiai dan 2 gus
• Korban terkonfirmasi: 11 orang
• Santriwati yang terindikasi korban: disebut hampir semua santriwati yang sering diminta memijat
• Usia korban: sebagian besar masih di bawah umur
• Korban pertama yang terjangkau: tahun 1991
• Korban terakhir yang terjangkau: tahun 2025
Dalam unggahan itu juga disebutkan bahwa bentuk perlakuan paling parah adalah ajakan melakukan nikah mut’ah atau kawin kontrak. Isu ini kemudian semakin ramai setelah akun Instagram @lamongan.update turut mengunggah informasi serupa.
“BAHAYAA!!! PONPES DI LAMONGAN SANGAT MERESAHKAN. DUGAAN PRILAKU CABUL KIYAI DAN GUSNYA TERJADI SEJAK TAHUN 1991 HINGGA 2025. Bayangkan berapa banyak korbannya saat ini?,” tulis akun tersebut.
Hingga kini, informasi yang beredar masih berasal dari unggahan media sosial dan belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai kebenaran dugaan tersebut.
