Khatam Sahih Bukhari di Makam Imam Bukhari, Santri Al - Falah Ploso Torehkan Sejarah di Samarkand Uzbekistan

Reporter

Bambang Setioko

Editor

A Yahya

10 - Feb - 2026, 08:35

Untuk pertama kalinya dalam hampir 100 tahun tradisi intelektual pesantren, dipimpin KH. Nurul Huda Djazuli rombongan Pondok Pesantren Al - Falah, Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menuntaskan pembacaan kitab Sahih Bukhari langsung di kompleks makam penyusun kitab, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, yang dikenal dengan gelar Amirul Mukminin fil Hadits. Foto : (Istimewa)

JATIMTIMES — Isak tangis haru pecah di Kompleks Makam Imam Bukhari, Samarkand, Uzbekistan, Sabtu (7/2/2026). Di pelataran pusara ulama besar ahli hadis itu, rombongan Pondok Pesantren Al - Falah, Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menuntaskan pembacaan Kitab Sahih Bukhari untuk ke-41 kalinya.

Namun, khatam kali ini berbeda dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam hampir 100 tahun tradisi intelektual pesantren tersebut, pembacaan hadis dilakukan langsung di kompleks makam penyusun kitab, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, yang dikenal dengan gelar Amirul Mukminin fil Hadits.

Foto : (Istimewa)

Kegiatan itu dipimpin langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, KH. Nurul Huda Djazuli. Didampingi putranya, Gus Kautsar, beserta dzuriyah serta 89 santri pilihan, Kyai Huda membacakan hadis pertama dan terakhir dari kitab monumental yang memuat 7.563 hadis sahih tersebut.

Baca Juga : Dua Pekerja Luka-Luka usai Tersengat Listrik di Apotek Gondanglegi

Suasana menjadi hening ketika hadis terakhir dilantunkan. Para santri menyimak dengan mata berkaca-kaca. Bagi mereka, jarak ribuan kilometer dari Kediri ke Samarkand Uzbekistan seolah melebur dalam satu ikatan keilmuan yang tak terputus oleh batas geografis.

“Ini adalah anugerah dan kehormatan yang tak terkira. Membaca kitab gurunya para ahli hadis di kompleks pusaranya, seolah kami menyambung rantai ilmu yang terpisah oleh jarak antarbangsa,” ujar KH. Nurul Huda Djazuli dengan suara bergetar seusai prosesi.

Tradisi mengkhatamkan Sahih Bukhari di Pesantren Al-Falah Ploso telah berlangsung turun-temurun sejak pondok tersebut berdiri pada Tahun 1925. Selama hampir satu abad, kitab tersebut menjadi ruh pengabdian pesantren dalam membentuk karakter dan keilmuan santri. 

Menyelesaikan pembacaan kitab hadis yang berisi ribuan hadis itu secara rutin bukan perkara ringan, melainkan menuntut ketekunan, konsistensi, dan kedalaman pemahaman.

Khatam di Samarkand menjadi penanda babak baru perjalanan tradisi tersebut. Selain bernilai spiritual, kegiatan itu juga mengandung makna diplomasi kultural dan ilmiah antara Indonesia dan Uzbekistan.

Rombongan pesantren asal Jawa Timur itu disambut hangat oleh pejabat dan tokoh Uzbekistan. Turut hadir menyambut rombongan dari Al-Falah, Ploso, Feruz Dodiev, Penasihat Ketua Komite Wisata Uzbekistan, Rustam Kabilov, Wakil Gubernur Samarkand, Prof. Shovosil Ziyodov, Direktur Pusat Kajian Ilmiah Internasional Imam Bukhari, serta Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Uzbekistan, Siti Ruhaini Dzuhayatin.

Prof. Shovosil Ziyodov menyebut kegiatan itu sebagai tonggak baru persaudaraan ilmiah kedua negara, “Kedatangan rombongan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso adalah sejarah baru. Ini menunjukkan betapa kuat dan hidupnya tradisi keilmuan Imam Bukhari di Indonesia, serta betapa erat hubungan cendekiawan dan ulama Uzbekistan-Indonesia,” ujar Ziyodov dalam sambutannya.

Baca Juga : Tiga Hari Dicari, Korban Tenggelam di Pantai Sine Akhirnya Ditemukan 

Feruz Dodiev menambahkan, khataman ini adalah khataman bersejarah menjelang peresmian kembali kompleks Imam Bukhari pada 2026, setelah lima tahun menjalani renovasi. 

Ia berharap kehadiran rombongan Al- Falah Ploso menjadi jembatan yang mempererat hubungan masyarakat kedua negara.

“Kami berharap semakin banyak warga Indonesia yang datang ke Uzbekistan, tidak hanya untuk wisata, tetapi juga untuk perjalanan ilmiah dan spiritual,” harapnya.

Sementara itu bagi keluarga besar Al-Falah Ploso, perjalanan ini bukan sekadar kunjungan luar negeri. Ia menjadi simbol bahwa tradisi pesantren Indonesia memiliki akar keilmuan yang kokoh, hidup, dan diakui di pusat peradaban Islam dunia.

Di bawah langit Samarkand yang cerah, para santri dari Kediri menutup rangkaian khataman dengan do'a bersama. Sejarah pun tercatat, sebuah pesantren dari Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabuapten Kediri, Jawa Timur menautkan kembali sanad ilmu hadis di tanah kelahiran sang imam besar, mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam satu ikatan spiritual yang melampaui zaman.